Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Persoalan Orientasi Ilmu Kampus Berdampak

 


Ilustration by Canva


Amin Tohari

Diperintah untuk berbeda, Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia mengubah terminologi program menteri sebelumnya dengan nama baru. 

Di masa Nadiem Makarim, KEMENDIKTI merancang program nasional dengan nama Kampus Merdeka (KM). Sekarang program itu diubah menjadi Kampus Berdampak (KB).  

Tidak ingin dianggap hanya lip service atau sekadar berbeda, KEMENDIKTI memberi penekanan yang lebih pada konsep KB tersebut. Jika sebelumnya KM hanya berfokus pada kebebasan mahasiswa dalam memilih jalur pembelajaran, lewat magang, pertukaran pelajar, ataupun kegiatan lain di luar kampus. 

Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri di luar batas ruang kelas, sehingga mereka siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Kampus Berdampak tidak hanya terbatas pada pembelajaran atau pengembangan mahasiswa saja, tetapi lebih menekankan pada dampak langsung pembelajaran terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. 

Kampus Berdampak bertujuan mendorong perguruan tinggi menjadi agen perubahan aktif memecahkan masalah-masalah nyata masyarakat.

Kalau Kampus Merdeka lebih menekankan kebebasan dalam proses pembelajaran, Kampus Berdampak mengutamakan kontribusi nyata kampus kepada masyarakat luas. Begitulah kira-kira poin yang hendak ditekankan.

Tawaran ini menarik untuk diulas lebih jauh dalam kerangka politik pengetahuan pendidikan tinggi sehingga nanti bisa kita lihat sejauh mana ia benar-benar serius ataukah hanya akan berakhir sebatas slogan kosong dan omon-omon.

Untuk membedah ini kita akan menggunakan pendekatan orientasi ilmu. Atau kalau kita meletakkan Kampus Berdampak dalam cerita tentang orientasi ilmu, akan seberdampak apakah sebenarnya? Inilah pertanyaan kita.

Adalah para peneliti sekolah Frankfurt yang pertama kali memberi tahu bahwa ilmu, yang lama sekali dianggap netral, ternyata memiliki orientasinya sendiri-sendiri. 

Bahkan mereka menegaskan bahwa orientasinya itu lebih menentukan dalam bagaimana ilmu tersebut berkembang. 

Penelitian itu menyumbangkan hal sangat penting dan mendasar karena selama ini, setidaknya mungkin selama sekitar lima abad, ilmu-ilmu tersebut menyembunyikan maksud terselubungnya.

Menurut sekolah Frankfurt, menemukan dan memahami orientasi ilmu ini penting karena ternyata di luar kesadaran kita dunia ini berkembang sejalan dengan jenis pengetahuan tertentu yang dominan. 

Kalau jenis pengetahuan ini bisa diungkap kita bisa memahami kenapa dunia yang kita tinggali sekarang ini berpikir dengan cara tertentu pula.

Pembongkaran terhadap orientasi ilmu ini dapat membantu merancang jenis pengetahuan apa yang diperlukan untuk mendorong perubahan mendasar yang bukan sekadar tambal sulam. 

Hal ini juga sangat berguna untuk mengerti pengetahuan jenis apa yang dominan dan pengetahuan apa yang disingkirkan.  

Dari penelitian yang panjang dan serius itu mereka menemukan bahwa di dunia ini ada tiga jenis orientasi ilmu. Yang pertama, adalah ilmu yang orientasinya problem solving

Ilmu ini sangat empiris dan analitis. Terobsesi objektivitas dan tujuan utamanya adalah penyelesaian-penyelesaian teknis.

Misalnya, bagaimana menumbuhkan padi dengan cepat, membuat telepon pintar, menciptakan mobil terbang, mendesain penanak nasi, memproduksi rumput sinstesis dan seterusnya. 

Kalau mau melakukan pemberdayaan UMKM umpamanya, ilmu ini akan mendefinisikan dulu bahwa masalah UMKM adalah mereka tidak tahu cara inovasi produk, kemasannya tidak menarik, pemasarannya konvensional, tidak punya kemampuan manajemen usaha yang bagus.

Dalam ilmu yang jenis ini tekanannya terletak pada verifikasi. Atau dalam kata lain verifikasi merupakan cara utama memvalidasinya. Sesuatu menjadi pengetahuan baru atau tidak tergantung pada lolos tidaknya dari verifikasi. 

Sebuah penanak nasi harus diuji dulu berkali-kali apakah betul-betul bisa menanak dengan baik atau tidak dengan mengecek berapa lama waktu dibutuhkan, berapa watt listrik yang dihabiskan, berapa volume berasnya, berapa ukuran airnya, bagaimana tingkat kematangannya, dan seterusnya.

Menurut para peneliti sekolah Frankfurt tersebut, ini adalah ilmu yang paling dominan dan menguasai dunia. Semua orang rata-rata berpikir dengan cara ini. 

Ilmu ini mengaktivasi apa yang disebut dengan rasionalitas instrumental yaitu cara berpikir yang menekankan pada terpecahkannya persoalan.

Berbeda dengan itu, jenis ilmu kedua, orientasinya bukan teknis tapi pemahaman atau hermeneutis. Ilmu ini berupaya untuk membangun saling pengertian. 

Maksudnya, ilmu itu soal saling koreksi satu sama lain dalam rangka mencapai rasionalitas yang universal. Ilmu ini menginginkan hubungan intersubjektif yang bebas distorsi agar konsensus publik bisa tercapai.

Semua kelompok yang terkait dengan isu tertentu harus duduk bersama menyampaikan kepentingan sejelas mungkin sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi. 

Punya kepentingan boleh saja tapi ia harus disampaikan secara terbuka dan jujur serta tidak dimanipulasi.

Kalau misalnya ilmu ini digunakan dalam pemberdayaan UMKM maka ia akan mengusulkan semua stakeholder terkait UMKM perlu bertemu dan bicara jujur tanpa distorsi. 

Harus ditemukan konsensus kolektif yang dihasilkan dari komunikasi bebas tekanan dan menghindari ambiguitas.

Dalam konteks UMKM, ilmu ini akan mengatakan bahwa masalahnya terletak pada tidak bertemunya berbagai kepentingan yang ada selama ini. 

Ini bukan hanya dalam soal UMKM saja, tapi juga termasuk banyak isu lainnya seperti gender, MBG, sanitasi dan seterusnya.

Yang ketiga adalah ilmu yang orientasinya emansipasi. Dalam ilmu jenis ini yang paling ditekankan adalah mendorong perubahan yang mendasar atau transformasi. 

Teknologi boleh berkembang, peralatan yang kita buat juga boleh makin canggih, mungkin kita juga sudah punya banyak institusi dan aturan. Bahkan juga punya Kementerian Komunikasi dan Informasi. 

Tapi kalau cara memandang dunia dan diri kita masih sama, perubahan yang kita bayangkan sebenarnya tidak pergi ke mana-mana.

Kalau diilustrasikan dalam soal UMKM, jenis ilmu ini pertama-tama akan mempertanyakan sesuatu yang terkait dengan misalnya apa yang membuat kita menamainya UMKM. 

Jangan-jangan persoalannya selama ini bukan pada inovasi produk, strategi pemasaran atau pengemasan, juga bukan pada konsensus tentang harus ngapain saja UMKM ini, tapi jangan-jangan masalahnya di menamai UMKM itu sendiri.

Nama UMKM menciptakan objek UMKM dan selama nama itu tidak berubah situasinya juga tidak berubah. Ini bukan lalu kalau begitu diubah saja namanya. Bukan. 

Tapi itu berarti UMKM ini sengaja diciptakan dan jangan-jangan ini adalah cara menundukkan kelas bawah dengan membuat mereka berpikir layaknya kelas atas.

Apa yang hendak ditekankan dari ilmu jenis ini adalah kapasitas transformasinya. Jadi urusannya adalah pada membongkar struktur besar yang menciptakan UMKM. 

Selama struktur ini tidak pernah dipertanyakan, selama itu pula kita hanya akan sibuk dengan urusan inovasi produk, strategi pemasaran, dan seterusnya.

Kalau kita perhatikan lebih jauh sebetulnya masing-masing orientasi ilmu tersebut dibangun dari cara mendefinisikan masalah sosial-kemasyarakatan yang sangat berbeda. 

Bagi ilmu yang orientasinya problem solving, masalah mendasar dari umat manusia ini adalah ketidaktahuan dan percaya pada hal-hal yang tidak bisa dibuktikan. Ilmu ini bercita-cita membangun masyarakat yang modern, maju dan canggih.

Sedangkan bagi orientasi ilmu hermeneutis, problem utamanya adalah distorsi dan manipulasi ideologi yang mengakibatkan kesalahpahaman. 

Ilmu ini menginginkan tatanan masyarakat demokratis yang dibangun dari komunikasi yang jujur dan terbuka.

Orientasi ilmu yang ketiga mendefinisikan problem utama ketakberdayaan manusia sebagai masalah ketimpangan. 

Ilmu ini membayangkan tatanan sosial yang ideal itu ketika semua orang berdiri setara dalam semua hal. Keadilan dulu baru kita bisa tumbuh bersama. Bukan sebaliknya.  

Kembali ke cerita tentang Kampus Merdeka dan Kampus Berdampak di atas. Kalau kita timbang-timbang dengan cara berpikir orientasi ilmu ini, rasa-rasanya semangat Kampus Merdeka lebih dekat ke orientasi ilmu yang pertama. 

Sedangkan Kampus Berdampak maunya mungkin ke orientasi ilmu yang ketiga. Sampai di sini tidak masalah, masih oke-oke saja.

Pertanyaan mendasarnya, apakah bisa transformasi dengan cara kerja ilmu yang orientasinya inovasi dan modernisasi. 

Tapi di Indonesia ini apa yang tak bisa. Untuk tradisi kerja kementerian di Indonesia, hal-hal seperti itu tidak terlalu penting. 

Yang penting program berjalan, anggaran terserap, dan setiap kali acara dibuka dan ditutup dengan pantun yang diakhiri kata cakep.

 

Referensi

Habermas, J. (1971) Knowledge and Human Interests. Boston: Beacon Press.

Hardiman, F. B. (1993) Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Kanisius.

McCarthy, T. (1978) The Critical Theory of Jürgen Habermas. Cambridge, MA: MIT Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

 





0 Komentar