Amin Tohari
SeriFoucault kembali digelar Sekolah Riset Satukata awal tahun ini. Seri kali ini merupakan Seri ke-5. Seri pertamanya dibuka pada 2022, Seri ke-2 juga pada tahun yang sama. Seri ke-3 diselenggarakan pada 2022, dan Seri ke-4 tahun 2023.
Perbedaannya adalah jika pada Seri-1
dan 2 kelas disusun secara kronologis sesuai dengan perkembangan penelitian
Foucault, di Seri-3 difokuskan pada cara menulis ala Foucault.
Seri-4 menekankan bagaimana
mengoperasikan Foucault untuk analisis kebijakan publik. Dalam Seri-5 ini
urutan pembahasannya diubah, dengan menambahkan beberapa tema penting yang
belum pernah dibahas sebelumnya.
Di luar dugaan pengelola sekolah,
Seri-5 ini ternyata secara kebetulan memiliki tautan konteks yang sangat kuat.
Sehingga cukup alasan kenapa Seri ke-5 ini tak boleh anda lewatkan.
Konteks itu adalah bagaimana, misalnya, kita menjelaskan Amerika yang tiba-tiba menculik presiden Venezuela?
Bagaimana kita memahami pesoalan banjir bandang Sumatera dan kegagapan
pemerintah menanganinya?
Bagaimana bisa kita mengerti kenapa sekian partai politik terus berusaha mengembalikan pemilihan kepala daerah ke masa Orde Baru?
Apa yang memungkinkan kita bisa tahu persoalan konsesi tambang
yang diobral ke ormas-ormas dan seterusnya, dan sebagainya?
Yang jelas kita masih akan dikejutkan oleh banyak sekali hal yang tak terduga lainnya di waktu-waktu berikutnya.
Di tengah kejadian-kejadian yang saling berseliweran, muncul dan tenggelamnya secara tak karuan, ada banyak analisis dan polemik yang berusaha menawarkan cara memahaminya.
Namun semakin semua itu diikuti, semakin pula membuat kepala
pusing.
Sebagian orang merasa cukup tenang, misalnya, dengan mendengarkan analisis gurunya, ustadznya atau kyainya.
Sebagian yang
lain memilih untuk percaya pada pendapat para ahli, profesor, atau badan
pemerintah resmi lainnya.
Yang lain mungkin lebih suka mendengarkan perkataan intelektual media sosial, para selebgram dan podcaster, meskipun rumit dan susah dimengerti.
Kelompok yang lain lebih percaya pada
analisis komika stand up komedian.
Tapi apapun itu, kita sedang melihat dunia yang tingkat kakacauannya jauh lebih dahsyat dibanding 20 atau 30 tahun lalu.
Tidak seperti dulu, sekarang ini krisis datang hampir setiap hari, yang
memaksa kita harus mem-framing-nya dengan cara tertentu agar efek
destabilisasinya tidak terlalu membahayakan.
Dalam rangka tujuan itu, SeriFoucault5 ini dihadirkan. Kenapa demikian, karena sebetulnya kalau diperhatikan dengan baik, semua kegaduhan itu pertama-tama berurusan dengan soal pengetahuan.
Lebih
spesifiknya lagi terkait dengan proses pembentukan dan beroperasinya
pengetahuan.
Jika pada masa dahulu orang percaya bahwa pengetahuan diciptakan oleh manusia yang dianggap memiliki otonomi dan independensi.
Tapi sekarang, secara perlahan-lahan, pengetahuan itu seperti
hidup sendiri dan memisahkan diri dari manusia.
Sekarang tampaknya pengetahuan itu sudah berdiri otonom dan malah lebih menentukan.
Dan kini kita sampai di abad di mana pengetahuan itu punya kapasitas lebih besar dalam menciptakan manusia dan bukan sebaliknya.
Disadari atau tidak kita ini, sekarang, ditentukan oleh
pengetahuan apa yang sedang menguasai kita.
Tapi si pengetahuan atau ilmu tadi ia tidak bisa menguasai kita secara otomatis. Ia harus menempuh jalan tertentu untuk bisa diterima sebagai pengetahuan.
Dengan kata lain pengetahuan bisa
dipercaya kalau ia berhasil memenuhi hasrat paling fundamental manusia yaitu
hasrat akan kebenaran.
Tanpa kebenaran, pengetahuan hanya akan berakhir di tong sampah peradaban. Tanpa kebenaran, manusia tidak bisa hidup.
Politik sebetulnya adalah upaya mati-matian untuk menciptakan,
memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran.
Ketakutan manusia yang paling
mendasar adalah kehilangan kebenaran. Mengapa Trump menculik Maduro, karena
ketakutan terbesar Amerika adalah kehilangan kebenarannya sebagai super
power.
Kenapa kita semua mengutuk Trump karena ia sedang mengancam kebenaran kita tentang dunia yang harus saling menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Dan untuk ini, semua negara siap
mengaktifkan hulu ledak nuklir atau menekan tombol rudal supersonic
antar benua.
Kalau kita bisa ikuti cara berpikir ini berarti kebenaran bukan seperti yang dibayangkan Immanuel Kant sebagai logika akal budi murni. Bukan.
Kebenaran itu terletak pada kemampuannya
menstabilkan krisis dan menenangkan rasa takut, tidak peduli apa content-nya.
Itu artinya tindakan Amerika menculik Maduro menunjukkan bahwa Amerika sedang mengalami krisis kebenaran yang paling parah saat ini.
Tindakan itu sendiri malah bisa mempertegas krisisnya menjadi
semakin dalam.
Dari situ kita bisa melihat kemudian bahwa kebenaran tidak muncul dari kegiatan ilmiah tapi dari proses politik. Kebenaran tidak datang dari kontemplasi atau uji validitas dan verifikasi.
Ia
muncul dari upaya untuk menambal krisis, ia tercipta dari politik, dari
tindakan menolak yang dianggap tidak benar, dari proses menyalahkan.
Trump dan Amerika bukan tak tahu soal hukum dan norma internasional yang dihasilkan dari perundingan panjang dan hasil dari banyak sekali riset para ahli.
Dan mereka tetap tak peduli dengan
semua itu.
Untuk membenarkan tindakannya, Trump dan Amerika memproduksi dulu kesalahan Maduro supaya bisa menuduhnya penjahat narkotika kelas kakap.
Juga kepada Saddam Hussein dengan menudingnya
menyembunyikan senjata nuklir.
Hal yang sama sebelumnya pernah mereka lakukan kepada presiden Panama tahun 1990.
Manuel Antonio Noriega digulingkan
dengan tuduhan pemerasan dan perdagangan narkotika. Lalu mengatakan
penggulingan itu adalah kehendak rakyat Panama.
Tapi apa sebetulnya tujuan dari urusan kebenaran ini? Tujuan utamanya adalah agar bisa mengatur. Kalau tidak ada kebenaran, pengaturan sulit dilakukan.
Dalam hal ini “mengatur”, menata,
“menyusun” sama persis dengan menguasai.
Berarti, kalau begitu, yang dilakukan Trump adalah dalam rangka menguasai? Itu seratus persen betul.
Pengetahuan dan
kebenaran, urusannya memang kekuasaan. Ketiganya bukan urutan sebab akibat tapi
satu kesatuan operasi kekuasaan itu sendiri.
Mekanisme ini tidak hanya beroperasi di wilayah yang sangat global tapi juga terjadi pada level yang sangat mikro.
Untuk menjadi diri sendiri kita sebetulnya tanpa sadar selalu mensitasi kepada pengetahuan
tertentu.
Pengetahuan ini nanti yang akan memberitahu kita ini siapa, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana kita melihat dunia ini.
Pengetahuan tersebut juga bahkan menentukan baju apa yang
kita pakai, makanan apa yang kita konsumsi, tempat nongkrong mana yang kita
datangi, kendaraan apa yang kita naiki dan seterusnya.
Kembali ke cerita penculikan Maduro di
atas, kalau dengan memproduksi pengetahuan/kebenaran dalam rangka pengaturan,
sebuah negara bisa menculik presiden negara lain yang berdaulat, lalu bagaimana
kita memahami negara sekarang ini?
Kalau juga demokratisasi dijadikan
sebagai kebenaran untuk melandasi tindakan penggulingan pemerintahan negara
lain karena dianggap tidak demokratis, bukankah itu menyelematkan demokrasi
dengan cara yang sangat tidak demokratis, lalu dengan cara apa kita musti
memahami lagi demokrasi?
Juga termasuk para politisi Indonesia
yang sedang menggunakan instrumen demokrasi untuk menyalahkan demokrasi langsung dengan
menganggapnya mahal dan tidak efisien, dan berusaha memaksakan sistem pemilihan
tidak langsung dikembalikan, lalu bagaimana kita memahami demokrasi Indonesia saat ini?
Persoalan-persoalan tersebut adalah pekerjaan rumah besar bagi kita semua.
SeriFoucault5 ini mengajak anda
bergabung dalam upaya bersama mencari jalan keluar yang tepat dengan masuk ke
dalam relung-relung pemikiran yang tidak biasa.
Untuk lebih jauh mengetahui apa saja
yang akan dibahas dalam SeriFoucault5, silahkan mengunjungi tautan berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=-0CC3gB6kVI
Referensi
Foucault,
M. (1972) The Archaeology of
Knowledge. Trans. A. M. Sheridan Smith. New York: Pantheon Books.
Foucault,
M. (1980) Power/Knowledge:
Selected Interviews and Writings, 1972–1977. New York: Pantheon
Books.
Howarth,
D., Norval, A. J. and Stavrakakis, Y. (2000) Discourse
Theory and Political Analysis. Manchester: Manchester University
Press.
Simons,
J. (1995) Foucault and the
Political. London: Routledge.
Tohari,
A. (2022) Metode Penelitian
Kekuasaan Ala Michel Foucault. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

0 Komentar