Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

SeriFoucault5: Trump, Maduro dan Krisis Kebenaran

 


sekolah riset satukata,-

Amin Tohari

SeriFoucault kembali digelar Sekolah Riset Satukata awal tahun ini. Seri kali ini merupakan Seri ke-5. Seri pertamanya dibuka pada 2022, Seri ke-2 juga pada tahun yang sama. Seri ke-3 diselenggarakan pada 2022, dan Seri ke-4 tahun 2023.

Perbedaannya adalah jika pada Seri-1 dan 2 kelas disusun secara kronologis sesuai dengan perkembangan penelitian Foucault, di Seri-3 difokuskan pada cara menulis ala Foucault.

Seri-4 menekankan bagaimana mengoperasikan Foucault untuk analisis kebijakan publik. Dalam Seri-5 ini urutan pembahasannya diubah, dengan menambahkan beberapa tema penting yang belum pernah dibahas sebelumnya.

Di luar dugaan pengelola sekolah, Seri-5 ini ternyata secara kebetulan memiliki tautan konteks yang sangat kuat. Sehingga cukup alasan  kenapa Seri ke-5 ini tak boleh anda lewatkan.

Konteks itu adalah bagaimana, misalnya, kita menjelaskan Amerika yang tiba-tiba menculik presiden Venezuela? 

Bagaimana kita memahami pesoalan banjir bandang Sumatera dan kegagapan pemerintah menanganinya?

Bagaimana bisa kita mengerti kenapa sekian partai politik terus berusaha mengembalikan pemilihan kepala daerah ke masa Orde Baru? 

Apa yang memungkinkan kita bisa tahu persoalan konsesi tambang yang diobral ke ormas-ormas dan seterusnya, dan sebagainya?

Yang jelas kita masih akan dikejutkan oleh banyak sekali hal yang tak terduga lainnya di waktu-waktu berikutnya. 

Di tengah kejadian-kejadian yang saling berseliweran, muncul dan tenggelamnya secara tak karuan, ada banyak analisis dan polemik yang berusaha menawarkan cara memahaminya. 

Namun semakin semua itu diikuti, semakin pula membuat kepala pusing.

Sebagian orang merasa cukup tenang, misalnya, dengan mendengarkan analisis gurunya, ustadznya atau kyainya. 

Sebagian yang lain memilih untuk percaya pada pendapat para ahli, profesor, atau badan pemerintah resmi lainnya.

Yang lain mungkin lebih suka mendengarkan perkataan intelektual media sosial, para selebgram dan podcaster, meskipun rumit dan susah dimengerti. 

Kelompok yang lain lebih percaya pada analisis komika stand up komedian.

Tapi apapun itu, kita sedang melihat dunia yang tingkat kakacauannya jauh lebih dahsyat dibanding 20 atau 30 tahun lalu. 

Tidak seperti dulu, sekarang ini krisis datang hampir setiap hari, yang memaksa kita harus mem-framing-nya dengan cara tertentu agar efek destabilisasinya tidak terlalu membahayakan.

Dalam rangka tujuan itu, SeriFoucault5 ini dihadirkan. Kenapa demikian, karena sebetulnya kalau diperhatikan dengan baik, semua kegaduhan itu pertama-tama berurusan dengan soal pengetahuan. 

Lebih spesifiknya lagi terkait dengan proses pembentukan dan beroperasinya pengetahuan.

Jika pada masa dahulu orang percaya bahwa pengetahuan diciptakan oleh manusia yang dianggap memiliki otonomi dan independensi. 

Tapi sekarang, secara perlahan-lahan, pengetahuan itu seperti hidup sendiri dan memisahkan diri dari manusia.

Sekarang tampaknya pengetahuan itu sudah berdiri otonom dan malah lebih menentukan. 

Dan kini kita sampai di abad di mana pengetahuan itu punya kapasitas lebih besar dalam menciptakan manusia dan bukan sebaliknya. 

Disadari atau tidak kita ini, sekarang, ditentukan oleh pengetahuan apa yang sedang menguasai kita.

Tapi si pengetahuan atau ilmu tadi ia tidak bisa menguasai kita secara otomatis. Ia harus menempuh jalan tertentu untuk bisa diterima sebagai pengetahuan. 

Dengan kata lain pengetahuan bisa dipercaya kalau ia berhasil memenuhi hasrat paling fundamental manusia yaitu hasrat akan kebenaran.

Tanpa kebenaran, pengetahuan hanya akan berakhir di tong sampah peradaban. Tanpa kebenaran, manusia tidak bisa hidup. 

Politik sebetulnya adalah upaya mati-matian untuk menciptakan, memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran.

Ketakutan manusia yang paling mendasar adalah kehilangan kebenaran. Mengapa Trump menculik Maduro, karena ketakutan terbesar Amerika adalah kehilangan kebenarannya sebagai super power.  

Kenapa kita semua mengutuk Trump karena ia sedang mengancam kebenaran kita tentang dunia yang harus saling menghormati kedaulatan masing-masing negara. 

Dan untuk ini, semua negara siap mengaktifkan hulu ledak nuklir atau menekan tombol rudal supersonic antar benua.

Kalau kita bisa ikuti cara berpikir ini berarti kebenaran bukan seperti yang dibayangkan Immanuel Kant sebagai logika akal budi murni. Bukan. 

Kebenaran itu terletak pada kemampuannya menstabilkan krisis dan menenangkan rasa takut, tidak peduli apa content-nya.

Itu artinya tindakan Amerika menculik Maduro menunjukkan bahwa Amerika sedang mengalami krisis kebenaran yang paling parah saat ini. 

Tindakan itu sendiri malah bisa mempertegas krisisnya menjadi semakin dalam.

Dari situ kita bisa melihat kemudian bahwa kebenaran tidak muncul dari kegiatan ilmiah tapi dari proses politik. Kebenaran tidak datang dari kontemplasi atau uji validitas dan verifikasi. 

Ia muncul dari upaya untuk menambal krisis, ia tercipta dari politik, dari tindakan menolak yang dianggap tidak benar, dari proses menyalahkan.

Trump dan Amerika bukan tak tahu soal hukum dan norma internasional yang dihasilkan dari perundingan panjang dan hasil dari banyak sekali riset para ahli. 

Dan mereka tetap tak peduli dengan semua itu.

Untuk membenarkan tindakannya, Trump dan Amerika memproduksi dulu kesalahan Maduro supaya bisa menuduhnya penjahat narkotika kelas kakap. 

Juga kepada Saddam Hussein dengan menudingnya menyembunyikan senjata nuklir.

Hal yang sama sebelumnya pernah mereka lakukan kepada presiden Panama tahun 1990. 

Manuel Antonio Noriega digulingkan dengan tuduhan pemerasan dan perdagangan narkotika. Lalu mengatakan penggulingan itu adalah kehendak rakyat Panama. 

Tapi apa sebetulnya tujuan dari urusan kebenaran ini? Tujuan utamanya adalah agar bisa mengatur. Kalau tidak ada kebenaran, pengaturan sulit dilakukan. 

Dalam hal ini “mengatur”, menata, “menyusun” sama persis dengan menguasai.

Berarti, kalau begitu, yang dilakukan Trump adalah dalam rangka menguasai? Itu seratus persen betul. 

Pengetahuan dan kebenaran, urusannya memang kekuasaan. Ketiganya bukan urutan sebab akibat tapi satu kesatuan operasi kekuasaan itu sendiri.

Mekanisme ini tidak hanya beroperasi di wilayah yang sangat global tapi juga terjadi pada level yang sangat mikro. 

Untuk menjadi diri sendiri kita sebetulnya tanpa sadar selalu mensitasi kepada pengetahuan tertentu.

Pengetahuan ini nanti yang akan memberitahu kita ini siapa, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana kita melihat dunia ini. 

Pengetahuan tersebut juga bahkan menentukan baju apa yang kita pakai, makanan apa yang kita konsumsi, tempat nongkrong mana yang kita datangi, kendaraan apa yang kita naiki dan seterusnya.

Kembali ke cerita penculikan Maduro di atas, kalau dengan memproduksi pengetahuan/kebenaran dalam rangka pengaturan, sebuah negara bisa menculik presiden negara lain yang berdaulat, lalu bagaimana kita memahami negara sekarang ini?

Kalau juga demokratisasi dijadikan sebagai kebenaran untuk melandasi tindakan penggulingan pemerintahan negara lain karena dianggap tidak demokratis, bukankah itu menyelematkan demokrasi dengan cara yang sangat tidak demokratis, lalu dengan cara apa kita musti memahami lagi demokrasi?

Juga termasuk para politisi Indonesia yang sedang menggunakan instrumen demokrasi untuk menyalahkan demokrasi langsung dengan menganggapnya mahal dan tidak efisien, dan berusaha memaksakan sistem pemilihan tidak langsung dikembalikan, lalu bagaimana kita memahami demokrasi Indonesia saat ini?

Persoalan-persoalan tersebut adalah pekerjaan rumah besar bagi kita semua. 

SeriFoucault5 ini mengajak anda bergabung dalam upaya bersama mencari jalan keluar yang tepat dengan masuk ke dalam relung-relung pemikiran yang tidak biasa.

Untuk lebih jauh mengetahui apa saja yang akan dibahas dalam SeriFoucault5, silahkan mengunjungi tautan berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=-0CC3gB6kVI

 

Referensi

Foucault, M. (1972) The Archaeology of Knowledge. Trans. A. M. Sheridan Smith. New York: Pantheon Books.

Foucault, M. (1980) Power/Knowledge: Selected Interviews and Writings, 1972–1977. New York: Pantheon Books.

Howarth, D., Norval, A. J. and Stavrakakis, Y. (2000) Discourse Theory and Political Analysis. Manchester: Manchester University Press.

Simons, J. (1995) Foucault and the Political. London: Routledge.

Tohari, A. (2022) Metode Penelitian Kekuasaan Ala Michel Foucault. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

 

 

 

 

 

 




0 Komentar