Dr. Amin Tohari
Jika masih
ingat, ada yang menarik dari peristiwa beberapa tahun lalu (2021) ketika AS akhirnya
kalah dan memilih hengkang dari Afganistan. Diberitakan secara internasional gambar
kekacauan yang terjadi di bandara Kabul saat ratusan orang berlari-lari
mengejar pesawat kargo militer yang lepas landas mengangkut seluruh personelnya
kembali ke Amerika.
Sebagai symptom
histeria, peristiwa itu memperlihatkan peran superego AS yang lama berkuasa (20
tahun) sudah berakhir. Sebelum kekacauan itu muncul, situasi Afganistan mirip
seperti orang normal pada umumnya. Semuanya berjalan tenang, ekonomi dan
kehidupan sosial bisa berlangsung aman, meskipun tentara AS berjaga di
mana-mana dengan senjata.
Dari histeria di
bandara itu orang jadi tahu, situasi aman yang berlangsung sebelumnya ternyata diciptakan
dengan menekan atau menindas sesuatu yang traumatik. Ketika orang bicara Afganistan,
ada satu nama yang selalu disebut dengan rasa takut, Taliban. Kelompok yang
oleh superego Amerika diobjektivikasi dengan berbagai aparatus teroris itu
muncul ke permukaan dan mengoyak selubung normalitas ciptaannya.
Hasrat yang tak
boleh muncul ke permukaan itu, membalik ilusi kekuatan yang selama ini
menyelubungi Afganistan di bawah pemerintahan AS yang mengedepankan pendekatan
keamanan dan penggunaan senjata. Itu semua dalam rangka menciptakan fantasi bahwa
tanpa AS Afganistan akan berada dalam situasi chaotic yang tak
berkesudahan. AS bagi Afganistan adalah tuan besar yang menenangkan krisis jati
dirinya.
Kalau diamati, apa
yang terjadi di kawasan teluk tidak jauh berbeda. Demi menekan hasrat
yang menyeruak ke permukaan dari negara-negara Arab-Islam, AS melakukan upaya
Talibanisasi kepada siapapun yang menolak direpresi. Membangun
pangkalan-pangkalan militer di kawasan ini adalah bagian dari upaya menekan mereka
yang di anggap “Taliban”, dan membangun ilusi akan peran superego AS dalam menormalisasi
kawasan.
Iran adalah
hasrat terlarang dari negara-negara teluk yang harus direpresi untuk menutup keraguan
akan peran superegonya di kawasan tersebut. Tapi embargo 47 tahunnya membuat AS
makin ragu seberapa jauh daya destabilisasi Iran terhadap AS. Serangan ilegal terhadap
Iran menjadi titik akhir ilusi AS atas kemampuannya menjamin normalitas semu
yang selama ini terus ditutup-tutupinya.
Dari yang semula
memaksa semua untuk percaya bahwa kawasan teluk tidak aman jika AS tak ada di
sana, Iran membaliknya dengan menunjukkan realitas baru bahwa ketidakamanan
mereka tidak terjamin justru kalau AS masih ada di sana. Talibanisasi atas Iran
malah memukul balik AS sendiri dan membuatnya histeris. Freud mengatakan ketika
yang traumatik gagal digenggam, ia muncul dalam mimpi, dalam salah omongan, dalam
pernyataan yang berubah-ubah, atau dalam kata dan tindakan yang terus diulang.
Perhatikan saja
Trump, semua omongannya tentang perang ini selalu berubah-ubah. Hari ini mengatakan
Iran telah dikalahkan, besok bilang perang akan diperpanjang, besoknya lagi ngomong
Iran sudah hampir menyerah. Kemarin ngomong akan kirim invasi pasukan darat,
lalu batal. Besoknya bilang akan mengebom pembangkit listrik, lalu bilang
ditunda karena Iran meminta negosiasi.
Menteri perang
AS juga sama, setelah tak menemukan kata yang pas untuk perang ini akhirnya
bilang mereka memang memerangi Islam, Syi’ah maupun Sunni. Kalau kita
perhatikan semua omongan mereka mirip seperti orang yang meracau atau orang ngelindur
karena mimpi, melompat-lompat, berubah-ubah, patah-patah, dan tak jelas alurnya.
Ini adalah situasi
yang sangat baik menggambarkan bagaimana rezim politik AS di kawasan teluk yang
beroperasinya lewat skema master-slave (tuan dan budak) mengalami crumble.
Di kawasan teluk AS selalu merasa sebagai tuan besar (master) dan
negara-negara teluk adalah slave-nya.
Kenapa AS bisa
menjadi master karena master ini muncul dari situasi pecah belah
yang tak berkesudahan. Timur Tengah adalah kawasan yang sejak lama mengalami
konflik dan perang yang tak ada habisnya. Dalam bahasa psikoanalisa, Timur
Tengah itu adalah divided subject ($), subjek yang terbelah-belah dan
kacau. Dengan membangun pangkalan-pangkalan militer dan menciptakan ilusi
ketidakamanan kawasan, AS berhasil menjadi tuan besar bagi semua.
Skema ini lalu menciptakan
obedient states, negara-negara yang mau patuh pada kepentingan AS, dan
cukup berhasil untuk misalnya Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, UEA, Irak,
Yordania, Israel dan Turki. Hanya dengan menghubungkan diri kepada AS sebagai tuan
besarnya (master signifier), negara-negara tersebut bisa mendapatkan enjoyment-nya
atau apa yang mereka butuhkan, keamanan, perlindungan, stabilitas, dan kekayaan.
Tetapi Iran adalah negara atau subjek atau signifier yang tidak berhasil
di-quilting atau dicengkeram oleh master signifier AS. Karena itu
ia selalu dianggap ancaman laten bagi stabilitas kawasan dan peran politik AS
di sana.
Seperti juga AS,
banyak yang mengira bahwa kekuatan Iran terbentuk karena menerapkan rezim
politik dengan skema master-slave bondage yang sama. Asumsi inilah yang
dipakai AS/Israel ketika membunuh Khemenei dan mengira semua akan selesai. Ini
juga yang melandasi argumen untuk mengatakan bahwa rakyat Iran menginginkan
perubahan rezim.
Tapi Khamenei
berulang kali menegaskan bukan dia master-nya, “saya tidak penting, yang
penting Iran, dan Iran tidak penting, yang penting Islam”. Islamlah yang
menempati posisi sebagai master signifier atau sebagai the truth
yang menyediakan cara untuk menjadi sebaik-baiknya orang Iran. Mencari
kesyahidan dan melawan imperialisme Amerika merupakan sesuatu yang dikejar
sebagai the thing atau enjoyment yang memberi rasa keutuhan diri untuk
menghentikan kekacuan dunia yang dikuasai geng Epstein.
Zizek menyebut
skema rezim politik ini sama seperti stalinisme yang menempatkan dealitical
materialism sebagai reason atau the truth untuk memberitahukan
enjoyment apa yang harus dikejar agar situasi ketidakpastian diri bisa
dihentikan. Menariknya, bagi Zizek, skema rezim ini juga sama dengan yang
beroperasi dalam politik multikulturalisme yang menciptakan objek spesifik
multikultural lengkap dengan semua enjoyment-nya untuk merayakan
perbedaan. Lalu para multikulturalis seperti terus “diteror” untuk
mencocok-cocokan diri dengan gagasan besar multikultural (political
correctness), apakah omongannya sudah multikultural, apakah sudah tidak
mengandung body shaming dan seterusnya. Multikultural akan memberi ruang
bagi perbedaan selama perbedaan itu tidak traumatik terhadap dirinya. Iran
adalah perbedaan traumatik terhadap kawasan teluk lainnya.
Yang menarik
adalah ketika perang ini pecah dan Iran mengatakan bahwa merekalah yang
menentukan kapan berakhirnya, kita tahu yang sedang terjadi adalah upaya
mengatakan kepada dunia bahwa selama ini master signifier-nya salah. Sama
dengan semua negara, subjek, atau hasrat yang direpresi selama ini atau
diTalibankan, Iran sedang menuntut dilakukannya perubahan di level tatanan
kawasan teluk dan dunia dengan mengoreksi secara fundamental master
signifier yang selama ini berkuasa, Amerika.
Dalam tipologi
rezim politik Lacanian/Zizekian, di level yang lebih luas, Iran sedang
mengaktivasi mode histeria yang tidak memulai lagi semuanya dari Islam
melainkan dari kondisi ketertindasan yang dirasakan semua yang direpresi oleh totalitarianisme
AS. Tujuan dari semua ini adalah mengubah tatanan dunia yang tidak adil,
perimbangan kekuatan yang timpang, kesemena-menaan yang dipertontonkan dengan
telanjang, kesombongan yang mengangkangi hukum humaniter international, dan
peran-peran gengster global yang menginjak-injak hak asasi manusia.
Tapi di sisi
yang lain kita juga menyaksikan adanya upaya mengaktivasi rezim politik yang
dilandaskan pada discourse of the analyst yang terus mencoba mencari enjoyment
yang diinginkan Iran dengan mengelupasi fantasinya. Ini dilakukan untuk
membuatnya bisa menerima keadaan yang ada dan menemukan master signifier
yang baru. Bisa kita lihat kenapa beberapa negara PBB meminta Iran menghentikan
serangan, dan beberapa negara Arab menghimbau Iran tak melanjutkan perang.
Negara-negara
ini akan memposisikan Iran sebagai kasus histeria dan pasien yang harus
diobati. Seperti yang pernah diterapkan pada kasus terorisme yang dilekatkan
pada kelompok Islam tertentu, mereka akan mengumpulkan uang dan memobilisasi
ilmuan untuk mempelajari Iran dan syiah, yang seolah dalam rangka mengadvokasi
hak-hak mereka, tapi sebetulnya dibuat untuk bisa mengendalikannya lebih baik.
Tapi perang
masih terus berlangsung, belum bisa diketahui mana dari keempat rezim politik
itu yang akhirnya akan menang. Apakah konflik ini akan berujung pada kembalinya
totalitarianisme AS (rezim kebenaran universitas), ataukah dunia akan melihat
munculnya tatanan master signfier baru yang lebih adil (rezim politik
histerik).
Referensi
Fink, B. (1995) The Lacanian Subject: Between Language
and Jouissance. Princeton: Princeton University Press.
Lacan, J. (2007) The Seminar, Book XVII: The Other Side
of Psychoanalysis. New York and London: W. W. Norton.
Fink, B. (1999) ‘The Master Signifier and the Four
Discourses’, in Nobus, D. (ed.) Key Concepts of Lacanian Psychoanalysis. New
York: Other Press, p. 29–47.

0 Komentar