Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Dunia yang Akan Tak Sama Lagi: Analisis Tipologi Rezim Politik dalam Konflik Iran-AS

 

sekolah riset satukata,-


Dr. Amin Tohari

 

Jika masih ingat, ada yang menarik dari peristiwa beberapa tahun lalu (2021) ketika AS akhirnya kalah dan memilih hengkang dari Afganistan. Diberitakan secara internasional gambar kekacauan yang terjadi di bandara Kabul saat ratusan orang berlari-lari mengejar pesawat kargo militer yang lepas landas mengangkut seluruh personelnya kembali ke Amerika.

Sebagai symptom histeria, peristiwa itu memperlihatkan peran superego AS yang lama berkuasa (20 tahun) sudah berakhir. Sebelum kekacauan itu muncul, situasi Afganistan mirip seperti orang normal pada umumnya. Semuanya berjalan tenang, ekonomi dan kehidupan sosial bisa berlangsung aman, meskipun tentara AS berjaga di mana-mana dengan senjata.

Dari histeria di bandara itu orang jadi tahu, situasi aman yang berlangsung sebelumnya ternyata diciptakan dengan menekan atau menindas sesuatu yang traumatik. Ketika orang bicara Afganistan, ada satu nama yang selalu disebut dengan rasa takut, Taliban. Kelompok yang oleh superego Amerika diobjektivikasi dengan berbagai aparatus teroris itu muncul ke permukaan dan mengoyak selubung normalitas ciptaannya.

Hasrat yang tak boleh muncul ke permukaan itu, membalik ilusi kekuatan yang selama ini menyelubungi Afganistan di bawah pemerintahan AS yang mengedepankan pendekatan keamanan dan penggunaan senjata. Itu semua dalam rangka menciptakan fantasi bahwa tanpa AS Afganistan akan berada dalam situasi chaotic yang tak berkesudahan. AS bagi Afganistan adalah tuan besar yang menenangkan krisis jati dirinya.

Kalau diamati, apa yang terjadi di kawasan teluk tidak jauh berbeda. Demi menekan hasrat yang menyeruak ke permukaan dari negara-negara Arab-Islam, AS melakukan upaya Talibanisasi kepada siapapun yang menolak direpresi. Membangun pangkalan-pangkalan militer di kawasan ini adalah bagian dari upaya menekan mereka yang di anggap “Taliban”, dan membangun ilusi akan peran superego AS dalam menormalisasi kawasan.  

Iran adalah hasrat terlarang dari negara-negara teluk yang harus direpresi untuk menutup keraguan akan peran superegonya di kawasan tersebut. Tapi embargo 47 tahunnya membuat AS makin ragu seberapa jauh daya destabilisasi Iran terhadap AS. Serangan ilegal terhadap Iran menjadi titik akhir ilusi AS atas kemampuannya menjamin normalitas semu yang selama ini terus ditutup-tutupinya.

Dari yang semula memaksa semua untuk percaya bahwa kawasan teluk tidak aman jika AS tak ada di sana, Iran membaliknya dengan menunjukkan realitas baru bahwa ketidakamanan mereka tidak terjamin justru kalau AS masih ada di sana. Talibanisasi atas Iran malah memukul balik AS sendiri dan membuatnya histeris. Freud mengatakan ketika yang traumatik gagal digenggam, ia muncul dalam mimpi, dalam salah omongan, dalam pernyataan yang berubah-ubah, atau dalam kata dan tindakan yang terus diulang.

Perhatikan saja Trump, semua omongannya tentang perang ini selalu berubah-ubah. Hari ini mengatakan Iran telah dikalahkan, besok bilang perang akan diperpanjang, besoknya lagi ngomong Iran sudah hampir menyerah. Kemarin ngomong akan kirim invasi pasukan darat, lalu batal. Besoknya bilang akan mengebom pembangkit listrik, lalu bilang ditunda karena Iran meminta negosiasi.

Menteri perang AS juga sama, setelah tak menemukan kata yang pas untuk perang ini akhirnya bilang mereka memang memerangi Islam, Syi’ah maupun Sunni. Kalau kita perhatikan semua omongan mereka mirip seperti orang yang meracau atau orang ngelindur karena mimpi, melompat-lompat, berubah-ubah, patah-patah, dan tak jelas alurnya.

Ini adalah situasi yang sangat baik menggambarkan bagaimana rezim politik AS di kawasan teluk yang beroperasinya lewat skema master-slave (tuan dan budak) mengalami crumble. Di kawasan teluk AS selalu merasa sebagai tuan besar (master) dan negara-negara teluk adalah slave-nya.

Kenapa AS bisa menjadi master karena master ini muncul dari situasi pecah belah yang tak berkesudahan. Timur Tengah adalah kawasan yang sejak lama mengalami konflik dan perang yang tak ada habisnya. Dalam bahasa psikoanalisa, Timur Tengah itu adalah divided subject ($), subjek yang terbelah-belah dan kacau. Dengan membangun pangkalan-pangkalan militer dan menciptakan ilusi ketidakamanan kawasan, AS berhasil menjadi tuan besar bagi semua.

Skema ini lalu menciptakan obedient states, negara-negara yang mau patuh pada kepentingan AS, dan cukup berhasil untuk misalnya Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, UEA, Irak, Yordania, Israel dan Turki. Hanya dengan menghubungkan diri kepada AS sebagai tuan besarnya (master signifier), negara-negara tersebut bisa mendapatkan enjoyment-nya atau apa yang mereka butuhkan, keamanan, perlindungan, stabilitas, dan kekayaan. Tetapi Iran adalah negara atau subjek atau signifier yang tidak berhasil di-quilting atau dicengkeram oleh master signifier AS. Karena itu ia selalu dianggap ancaman laten bagi stabilitas kawasan dan peran politik AS di sana.     

Seperti juga AS, banyak yang mengira bahwa kekuatan Iran terbentuk karena menerapkan rezim politik dengan skema master-slave bondage yang sama. Asumsi inilah yang dipakai AS/Israel ketika membunuh Khemenei dan mengira semua akan selesai. Ini juga yang melandasi argumen untuk mengatakan bahwa rakyat Iran menginginkan perubahan rezim.

Tapi Khamenei berulang kali menegaskan bukan dia master-nya, “saya tidak penting, yang penting Iran, dan Iran tidak penting, yang penting Islam”. Islamlah yang menempati posisi sebagai master signifier atau sebagai the truth yang menyediakan cara untuk menjadi sebaik-baiknya orang Iran. Mencari kesyahidan dan melawan imperialisme Amerika merupakan sesuatu yang dikejar sebagai the thing atau enjoyment yang memberi rasa keutuhan diri untuk menghentikan kekacuan dunia yang dikuasai geng Epstein.

Zizek menyebut skema rezim politik ini sama seperti stalinisme yang menempatkan dealitical materialism sebagai reason atau the truth untuk memberitahukan enjoyment apa yang harus dikejar agar situasi ketidakpastian diri bisa dihentikan. Menariknya, bagi Zizek, skema rezim ini juga sama dengan yang beroperasi dalam politik multikulturalisme yang menciptakan objek spesifik multikultural lengkap dengan semua enjoyment-nya untuk merayakan perbedaan. Lalu para multikulturalis seperti terus “diteror” untuk mencocok-cocokan diri dengan gagasan besar multikultural (political correctness), apakah omongannya sudah multikultural, apakah sudah tidak mengandung body shaming dan seterusnya. Multikultural akan memberi ruang bagi perbedaan selama perbedaan itu tidak traumatik terhadap dirinya. Iran adalah perbedaan traumatik terhadap kawasan teluk lainnya.

Yang menarik adalah ketika perang ini pecah dan Iran mengatakan bahwa merekalah yang menentukan kapan berakhirnya, kita tahu yang sedang terjadi adalah upaya mengatakan kepada dunia bahwa selama ini master signifier-nya salah. Sama dengan semua negara, subjek, atau hasrat yang direpresi selama ini atau diTalibankan, Iran sedang menuntut dilakukannya perubahan di level tatanan kawasan teluk dan dunia dengan mengoreksi secara fundamental master signifier yang selama ini berkuasa, Amerika.   

Dalam tipologi rezim politik Lacanian/Zizekian, di level yang lebih luas, Iran sedang mengaktivasi mode histeria yang tidak memulai lagi semuanya dari Islam melainkan dari kondisi ketertindasan yang dirasakan semua yang direpresi oleh totalitarianisme AS. Tujuan dari semua ini adalah mengubah tatanan dunia yang tidak adil, perimbangan kekuatan yang timpang, kesemena-menaan yang dipertontonkan dengan telanjang, kesombongan yang mengangkangi hukum humaniter international, dan peran-peran gengster global yang menginjak-injak hak asasi manusia.

Tapi di sisi yang lain kita juga menyaksikan adanya upaya mengaktivasi rezim politik yang dilandaskan pada discourse of the analyst yang terus mencoba mencari enjoyment yang diinginkan Iran dengan mengelupasi fantasinya. Ini dilakukan untuk membuatnya bisa menerima keadaan yang ada dan menemukan master signifier yang baru. Bisa kita lihat kenapa beberapa negara PBB meminta Iran menghentikan serangan, dan beberapa negara Arab menghimbau Iran tak melanjutkan perang.

Negara-negara ini akan memposisikan Iran sebagai kasus histeria dan pasien yang harus diobati. Seperti yang pernah diterapkan pada kasus terorisme yang dilekatkan pada kelompok Islam tertentu, mereka akan mengumpulkan uang dan memobilisasi ilmuan untuk mempelajari Iran dan syiah, yang seolah dalam rangka mengadvokasi hak-hak mereka, tapi sebetulnya dibuat untuk bisa mengendalikannya lebih baik.

Tapi perang masih terus berlangsung, belum bisa diketahui mana dari keempat rezim politik itu yang akhirnya akan menang. Apakah konflik ini akan berujung pada kembalinya totalitarianisme AS (rezim kebenaran universitas), ataukah dunia akan melihat munculnya tatanan master signfier baru yang lebih adil (rezim politik histerik).

 

Referensi

Fink, B. (1995) The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance. Princeton: Princeton University Press.

Lacan, J. (2007) The Seminar, Book XVII: The Other Side of Psychoanalysis. New York and London: W. W. Norton.

Fink, B. (1999) ‘The Master Signifier and the Four Discourses’, in Nobus, D. (ed.) Key Concepts of Lacanian Psychoanalysis. New York: Other Press, p. 29–47.

 

 

 

 

 

 


0 Komentar