ilustration by canva
Dr. Amin Tohari
Ketika Hitler tewas pada bulan April 1945, ia segera menjadi perbincangan banyak orang di mana-mana dan menjadi bahan penelitian. Dalam perbincangan itu, orang-orang berdebat dalam satu pertanyaan mendasar, kenapa dunia yang kita tinggali ini bisa melahirkan orang seperti Hitler, atau sistem sosial-politik seperti apa yang membuat orang seperti Hilter bisa memimpin sebuah negara.
Sudah
tentu perbincangan itu didasari kekhawatiran dan trauma yang mendalam atas
tragedi pembantaian selama Nazi berkuasa. Lalu para peneliti berpikir tentang
apa yang harus dilakukan agar orang-orang seperti Hitler tidak pernah lagi
diberi kekuasaan begitu besar yang membuatnya bisa melakukan apa saja tanpa
kontrol.
Ada
banyak analisis yang mencoba menjawabnya. Dan dari banyak yang lain, salah satu
yang menarik adalah analisis yang memperhatikan soal perkembangan psikis
Hitler. Analisis ini memusatkan telaahnya pada sejarah hidup sang Fuhrer.
Bagian mana dari hidupnya yang sangat traumatis sehingga itu membentuk wataknya
hingga dewasa dan mempengaruhinya dalam melihat dunia ini.
Dari
sejarah hidupnya diketahui bahwa ia menyimpan banyak trauma. Ayahnya adalah
orang yang sangat keras dan dominan. Sementara ibunya tidak mampu melindungnya.
Kematian adiknya merupakan pukulan yang sangat menyedihkan. Setelah ibunya
meninggal, ia hidup menggelandang. Ia menjual lukisan untuk bertahan hidup dan
kerja serabutan. Cita-citanya sebagai seniman tidak pernah kesampaian.
Cerita
masa kecilnya ini belum menceritakan apa-apa untuk menjelaskan Fuhrer.
Benar. Tapi di situ kita tahu ia hidup dalam ketakutan yang tak berujung. Hal
yang sama juga dialami oleh banyak anak Jerman sepertinya saat itu. Ketakutan
ini terus mendorongnya mencari sesuatu yang bisa menenangkannya, semacam sosok
ayah (father), sebab keadaan fatherless itu memang sangat
menyakitkan. Kekalahan Jerman dari Soviet, dan dominasi imigran Yahudi,
membuatnya makin frustasi. Anti-Semitisme muncul sebagai fantasi idelogi yang menguat
didasarkan pada prasangka penderitaan Jerman karena hilangnya sesuatu yang dulu
pernah mereka miliki. Susunan simbolik ini menyergap jiwa Hitler muda dalam
imajinasinya.
Peneliti
psikoanalisa politik kontemporer, Slavoj Zizek, pernah membahas soal ini dalam
bukunya The Sublime Object of Idelogy (2008). Rasisme anti-Semitisme
yang berkembang di Jerman waktu itu didasarkan pada sinisme. Orang-orang
seperti Hitler merasa bahwa penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami
disebabkan oleh sesuatu yang hilang dari diri mereka.
Sesuatu
entah apa ini pernah mereka miliki dan hilang dicuri. Menurut Zizek, apa yang
dicuri itu adalah enjoyment. Kehilangan ayah, kehilangan ibu, kehilangan
adik, kehilangan impian adalah rentetan hilangnya enjoyment dari Hitler.
Puncak kehilangan yang paling menakutkan meluas menjadi rasa takut kehilangan Jerman.
Dalam
situasi seperti inilah ideologi ras Arya hadir menciptakan fantasi tentang
kembalinya keutuhan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan
kembali enjoyment keutuhan yang hilang tersebut. Enjoyment ini
hilang karena dicuri oleh sesuatu dari luar, dan untuk mengembalikannya ia
harus direbut kembali. Upaya merebut lagi enjoyment ini bisa muncul
dalam bentuk brutal. Holocoust merupakan upaya kejam untuk mengambil
kembali enjoyment yang hilang itu.
Kata-kata
Hitler, “entah kemenangan bangsa Arya, atau pemusnahan bangsa Arya, dan
kemenangan Yahudi”, sangat kuat mengindikasikan hilangnya enjoyment
tersebut. Kata-kata ini berpengaruh besar dan berhasil memproduksi desire
kolektif yang melandasi berbagai upaya politik dalam mengukuhkan Hitler sebagai
penguasa Jerman.
Apa
yang disebut dengan enjoyment tadi, ia tidak bisa muncul kalau tidak ada
desire. Dan desire itu sendiri baru bisa diketahui ketika ada fantasi
ideologi tertentu yang menjanjikan pemenuhannya. Desire ini biasanya
menjadi kian jelas ketika sebuah susunan simbolik berhasil dirajut untuk memberinya
tubuh yang lebih terlihat semacam corporeal body.
Dalam
cerita Hitler, mudah melihat desire yang tercipta dalam slogan atau kata-kata
“Supremasi Arya Jerman” yang menjadi agenda politik utama Hitler dan Partai
Nazi saat itu. Desire itu, beberapa di antaranya adalah, membangun Volksgemeinschaft
semacam komunitas rakyat, pemurnian ras, ekspansi wilayah, membatalkan
perjanjian Versailles, diktator mutlak dan menghapus oposisi, menegakkan
ideologi nasional-sosialisme yang anti-komunis dan anti-Marxis, dan seterusnya.
Kalau
kita perhatikan lebih teliti sebetulnya semua desire tersebut adalah
sejumlah keinginan, harapan, kemauan dan entah apapun namanya yang meminta
dipenuhi tapi nggak kesampaian. Tapi situasi tidak kesampaian ini malah
membuatnya menjadi terus relevan untuk diinginkan atau dalam kata yang lain
“diperjuangkan”.
Ini
berarti semua desire yang muncul dari enjoyment berangkat dari
sesuatu yang dirasakan pernah ada tapi telah hilang atau tidak ada lagi. Karena
dia pernah ada lalu hilang berarti ada sesuatu yang mengambilnya, dari sinilah
apa yang disebut sinisme itu muncul. Itu artinya, enjoyment tadi telah
dicuri, dan yang mengambilnya adalah sesuatu yang lain (other) sekali
dari kita dan mereka mengambilnya karena tidak suka dengan kita. Karena kalau
suka mereka tidak akan mengambilnya.
Segera
terbaca bagaimana kemudian kaum Yahudi menjadi kelompok yang harus dihilangkan
dalam Supremasi Arya Jerman itu. Dan yang dianggap sebagai pengambil enjoyment
tidak pernah sesuatu yang sangat jauh jaraknya melainkan sesuatu yang dekat. Yahudi
dan komunisme adalah dua entitas yang lama sekali hidup bersama dalam negara
Prusia atau sekarang Jerman.
Lalu
bagaimana dengan Trump? Sudah tentu Trump bukan Hitler, ia tidak juga mengalami
situasi traumatik setragis Hitler. Trump lahir dari keluarga berada yang lebih
stabil. Tidak ada cerita yang begitu pilu dari hidupnya kecuali laporan soal
kenakalan-kenakalan dari guru dan teman-temannya. Kalau kita pakai skema ini
melihat Trump rasa-rasanya tidak jauh berbeda. Slogan “Make Amerika Great
Again” muncul dari sesuatu yang dirasa hilang dari enjoyment sebagai
Amerika. Sama seperti supremasi ras Arya di masa Nazi yang menyingkirkan
Yahudi, slogan Trump itu juga dilekatkan pada superioritas kulit putih (white
supremacy) yang merasa enjoyment-nya dicuri oleh kaum imigran.
Itulah yang menjelaskan kenapa rezim Trump membuat berbagai macam aturan untuk menekan
imigran mulai dari membangun tembok yang tinggi, mendeportasi sampai menjual
kewarganegaraan Amerika dengan harga tinggi.
Selain
imigran, Trump dan para pendukungnya juga merasa enjoyment itu diambil
oleh pihak luar yang tidak suka Amerika. Selama ini Amerika mengalami “kebocoran”
enjoyment, dan ini membuatnya menerapkan tarif tinggi pada produk dari
Cina. Kita masih ingat tentu saja pada perang tarif dagang Cina dan Amerika
beberapa waktu lalu. Belakangan mereka yang dianggap mencuri enjoyment
itu diperluas ke Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika Selatan. Penculikan presiden
Maduro, rencana menyerang Kuba, dan pembunuhan Khamenei di Iran berada dalam krisis
enjoyment tersebut.
Hal
yang juga menarik adalah fantasi ideologi “Make America Great Again” itu
telah menyediakan wadah bagi munculnya desire Amerika yang tertahan. Desire
ini yang kemudian membuat enjoyment-nya terasa dapat diperoleh kembali. Tidak
begitu penting sebetulnya apakah Amerika sudah benar-benar great atau
belum karena yang paling penting enjoyment-nya bisa diraih dan terasa
dekat. Bahkan keadaan belum benar-benar great ini terus dipelihara
supaya masa berlaku enjoyment-nya tidak kedaluarsa, dan itu bisa membuat
Trump bersenang-senang dengan semua yang dilakukannya.
Dan
enjoyment itu hadir bersamaan dengan upaya mewujudkan slogan MAGA
tersebut mulai dari menginvasi negara lain, menculik presidennya, berusaha menjatuhkan
pemerintahan yang sah, mengerahkan pasukan dan kapal-kapal induk, membunuh
pemimpin negara lain, memproduksi senjata dan mengebom anak-anak sekolah, melayani
ambisi Great Israel-nya Netanyahu, dan seterusnya. Dalam satu tahun saja sejak
Trump berkuasa, sudah ada tujuh negara yang diserangnya, yaitu Yaman, Irak,
Suriah, Somalia, Venezuela, Nigeria, dan Iran.
Perspektif
ekonomi politik yang sering digunakan untuk melihat sesuatu yang ada di balik
kelakukan Amerika ini sering menaruh sebab musababnya pada soal rebutan minyak
dan energi. Tentu saja itu tidak salah dan oke. Tapi bagaimana kalau sebetulnya
minyak ini adalah bagian saja dari upaya melayani Amerika untuk memperoleh enjoyment-nya.
Ambisi Great Israel-nya Netanyahu juga dalam frekuensi yang sama.
Lalu
enjoyment apa yang hilang dari retorika ekonomi bocor dan antek asing
yang sering sekali terdengar dari pernyataan dan pidato-pidato macan Asia? Allahu
a’lam.
Referensi
Žižek,
S. (1989) The Sublime Object of Ideology. London: Verso.
Sharpe, M., & Boucher, G. (2010) Zizek and Politics: A Critical Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Stavrakakis,
Yannis. (1999) Lacan and the Political. London: Routledge.

0 Komentar