Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Hasrat Kenikmatan Perang, Psikoanalisa Kelakuan Trump dan Amerika

 


ilustration by canva

sekolah riset satukata,-

Dr. Amin Tohari

Ketika Hitler tewas pada bulan April 1945, ia segera menjadi perbincangan banyak orang di mana-mana dan menjadi bahan penelitian. Dalam perbincangan itu, orang-orang berdebat dalam satu pertanyaan mendasar, kenapa dunia yang kita tinggali ini bisa melahirkan orang seperti Hitler, atau sistem sosial-politik seperti apa yang membuat orang seperti Hilter bisa memimpin sebuah negara.

Sudah tentu perbincangan itu didasari kekhawatiran dan trauma yang mendalam atas tragedi pembantaian selama Nazi berkuasa. Lalu para peneliti berpikir tentang apa yang harus dilakukan agar orang-orang seperti Hitler tidak pernah lagi diberi kekuasaan begitu besar yang membuatnya bisa melakukan apa saja tanpa kontrol.

Ada banyak analisis yang mencoba menjawabnya. Dan dari banyak yang lain, salah satu yang menarik adalah analisis yang memperhatikan soal perkembangan psikis Hitler. Analisis ini memusatkan telaahnya pada sejarah hidup sang Fuhrer. Bagian mana dari hidupnya yang sangat traumatis sehingga itu membentuk wataknya hingga dewasa dan mempengaruhinya dalam melihat dunia ini.

Dari sejarah hidupnya diketahui bahwa ia menyimpan banyak trauma. Ayahnya adalah orang yang sangat keras dan dominan. Sementara ibunya tidak mampu melindungnya. Kematian adiknya merupakan pukulan yang sangat menyedihkan. Setelah ibunya meninggal, ia hidup menggelandang. Ia menjual lukisan untuk bertahan hidup dan kerja serabutan. Cita-citanya sebagai seniman tidak pernah kesampaian.

Cerita masa kecilnya ini belum menceritakan apa-apa untuk menjelaskan Fuhrer. Benar. Tapi di situ kita tahu ia hidup dalam ketakutan yang tak berujung. Hal yang sama juga dialami oleh banyak anak Jerman sepertinya saat itu. Ketakutan ini terus mendorongnya mencari sesuatu yang bisa menenangkannya, semacam sosok ayah (father), sebab keadaan fatherless itu memang sangat menyakitkan. Kekalahan Jerman dari Soviet, dan dominasi imigran Yahudi, membuatnya makin frustasi. Anti-Semitisme muncul sebagai fantasi idelogi yang menguat didasarkan pada prasangka penderitaan Jerman karena hilangnya sesuatu yang dulu pernah mereka miliki. Susunan simbolik ini menyergap jiwa Hitler muda dalam imajinasinya.  

Peneliti psikoanalisa politik kontemporer, Slavoj Zizek, pernah membahas soal ini dalam bukunya The Sublime Object of Idelogy (2008). Rasisme anti-Semitisme yang berkembang di Jerman waktu itu didasarkan pada sinisme. Orang-orang seperti Hitler merasa bahwa penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami disebabkan oleh sesuatu yang hilang dari diri mereka.

Sesuatu entah apa ini pernah mereka miliki dan hilang dicuri. Menurut Zizek, apa yang dicuri itu adalah enjoyment. Kehilangan ayah, kehilangan ibu, kehilangan adik, kehilangan impian adalah rentetan hilangnya enjoyment dari Hitler. Puncak kehilangan yang paling menakutkan meluas menjadi rasa takut kehilangan Jerman.

Dalam situasi seperti inilah ideologi ras Arya hadir menciptakan fantasi tentang kembalinya keutuhan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kembali enjoyment keutuhan yang hilang tersebut. Enjoyment ini hilang karena dicuri oleh sesuatu dari luar, dan untuk mengembalikannya ia harus direbut kembali. Upaya merebut lagi enjoyment ini bisa muncul dalam bentuk brutal. Holocoust merupakan upaya kejam untuk mengambil kembali enjoyment yang hilang itu.

Kata-kata Hitler, “entah kemenangan bangsa Arya, atau pemusnahan bangsa Arya, dan kemenangan Yahudi”, sangat kuat mengindikasikan hilangnya enjoyment tersebut. Kata-kata ini berpengaruh besar dan berhasil memproduksi desire kolektif yang melandasi berbagai upaya politik dalam mengukuhkan Hitler sebagai penguasa Jerman.

Apa yang disebut dengan enjoyment tadi, ia tidak bisa muncul kalau tidak ada desire. Dan desire itu sendiri baru bisa diketahui ketika ada fantasi ideologi tertentu yang menjanjikan pemenuhannya. Desire ini biasanya menjadi kian jelas ketika sebuah susunan simbolik berhasil dirajut untuk memberinya tubuh yang lebih terlihat semacam corporeal body.

Dalam cerita Hitler, mudah melihat desire yang tercipta dalam slogan atau kata-kata “Supremasi Arya Jerman” yang menjadi agenda politik utama Hitler dan Partai Nazi saat itu. Desire itu, beberapa di antaranya adalah, membangun Volksgemeinschaft semacam komunitas rakyat, pemurnian ras, ekspansi wilayah, membatalkan perjanjian Versailles, diktator mutlak dan menghapus oposisi, menegakkan ideologi nasional-sosialisme yang anti-komunis dan anti-Marxis, dan seterusnya.

Kalau kita perhatikan lebih teliti sebetulnya semua desire tersebut adalah sejumlah keinginan, harapan, kemauan dan entah apapun namanya yang meminta dipenuhi tapi nggak kesampaian. Tapi situasi tidak kesampaian ini malah membuatnya menjadi terus relevan untuk diinginkan atau dalam kata yang lain “diperjuangkan”.

Ini berarti semua desire yang muncul dari enjoyment berangkat dari sesuatu yang dirasakan pernah ada tapi telah hilang atau tidak ada lagi. Karena dia pernah ada lalu hilang berarti ada sesuatu yang mengambilnya, dari sinilah apa yang disebut sinisme itu muncul. Itu artinya, enjoyment tadi telah dicuri, dan yang mengambilnya adalah sesuatu yang lain (other) sekali dari kita dan mereka mengambilnya karena tidak suka dengan kita. Karena kalau suka mereka tidak akan mengambilnya.

Segera terbaca bagaimana kemudian kaum Yahudi menjadi kelompok yang harus dihilangkan dalam Supremasi Arya Jerman itu. Dan yang dianggap sebagai pengambil enjoyment tidak pernah sesuatu yang sangat jauh jaraknya melainkan sesuatu yang dekat. Yahudi dan komunisme adalah dua entitas yang lama sekali hidup bersama dalam negara Prusia atau sekarang Jerman.

Lalu bagaimana dengan Trump? Sudah tentu Trump bukan Hitler, ia tidak juga mengalami situasi traumatik setragis Hitler. Trump lahir dari keluarga berada yang lebih stabil. Tidak ada cerita yang begitu pilu dari hidupnya kecuali laporan soal kenakalan-kenakalan dari guru dan teman-temannya. Kalau kita pakai skema ini melihat Trump rasa-rasanya tidak jauh berbeda. Slogan “Make Amerika Great Again” muncul dari sesuatu yang dirasa hilang dari enjoyment sebagai Amerika. Sama seperti supremasi ras Arya di masa Nazi yang menyingkirkan Yahudi, slogan Trump itu juga dilekatkan pada superioritas kulit putih (white supremacy) yang merasa enjoyment-nya dicuri oleh kaum imigran. Itulah yang menjelaskan kenapa rezim Trump membuat berbagai macam aturan untuk menekan imigran mulai dari membangun tembok yang tinggi, mendeportasi sampai menjual kewarganegaraan Amerika dengan harga tinggi.

Selain imigran, Trump dan para pendukungnya juga merasa enjoyment itu diambil oleh pihak luar yang tidak suka Amerika. Selama ini Amerika mengalami “kebocoran” enjoyment, dan ini membuatnya menerapkan tarif tinggi pada produk dari Cina. Kita masih ingat tentu saja pada perang tarif dagang Cina dan Amerika beberapa waktu lalu. Belakangan mereka yang dianggap mencuri enjoyment itu diperluas ke Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika Selatan. Penculikan presiden Maduro, rencana menyerang Kuba, dan pembunuhan Khamenei di Iran berada dalam krisis enjoyment tersebut.

Hal yang juga menarik adalah fantasi ideologi “Make America Great Again” itu telah menyediakan wadah bagi munculnya desire Amerika yang tertahan. Desire ini yang kemudian membuat enjoyment-nya terasa dapat diperoleh kembali. Tidak begitu penting sebetulnya apakah Amerika sudah benar-benar great atau belum karena yang paling penting enjoyment-nya bisa diraih dan terasa dekat. Bahkan keadaan belum benar-benar great ini terus dipelihara supaya masa berlaku enjoyment-nya tidak kedaluarsa, dan itu bisa membuat Trump bersenang-senang dengan semua yang dilakukannya.

Dan enjoyment itu hadir bersamaan dengan upaya mewujudkan slogan MAGA tersebut mulai dari menginvasi negara lain, menculik presidennya, berusaha menjatuhkan pemerintahan yang sah, mengerahkan pasukan dan kapal-kapal induk, membunuh pemimpin negara lain, memproduksi senjata dan mengebom anak-anak sekolah, melayani ambisi Great Israel-nya Netanyahu, dan seterusnya. Dalam satu tahun saja sejak Trump berkuasa, sudah ada tujuh negara yang diserangnya, yaitu Yaman, Irak, Suriah, Somalia, Venezuela, Nigeria, dan Iran.

Perspektif ekonomi politik yang sering digunakan untuk melihat sesuatu yang ada di balik kelakukan Amerika ini sering menaruh sebab musababnya pada soal rebutan minyak dan energi. Tentu saja itu tidak salah dan oke. Tapi bagaimana kalau sebetulnya minyak ini adalah bagian saja dari upaya melayani Amerika untuk memperoleh enjoyment-nya. Ambisi Great Israel-nya Netanyahu juga dalam frekuensi yang sama.

Lalu enjoyment apa yang hilang dari retorika ekonomi bocor dan antek asing yang sering sekali terdengar dari pernyataan dan pidato-pidato macan Asia? Allahu a’lam.

 

 

Referensi

Žižek, S. (1989) The Sublime Object of Ideology. London: Verso.

Sharpe, M., & Boucher, G. (2010) Zizek and Politics: A Critical Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Stavrakakis, Yannis. (1999) Lacan and the Political. London: Routledge.


0 Komentar