Apa yang terjadi di kawasan Teluk sekarang ini mengingatkan sesuatu yang pernah ditulis seorang ilmuan politik kontemporer Ernesto Laclau dalam karya-karyanya seperti Hegemony and Socialist Strategy; Toward a Radical Politic Democratic (1985), juga dalam On Populist Reason (2005). Dalam buku-buku tersebut ia mengatakan ketika garis politik (political frontier) terbentuk tidak ada pilihan ketiga, pilihannya hanya ada dua, anda bersama kami atau bersama mereka. Titik.
Selama
ini orang mengira kalau netral itu di luar antagonisme politik yang ada, menurut
Laclau, tidak. Bahkan menempati posisi netral juga tetap sama karena garis
politiknya menjadi antara “yang netral” dan “yang tidak netral”. Dalam medan pertempuran
politik yang sudah memuncak hampir bisa dipastikan tidak ada yang keluar dari
relasi politik (antagonisme). Itulah sebabnya kenapa duta besar Iran mengatakan
untuk waktu sekarang ini usulan memediasi konflik adalah usulan yang belum
tepat.
Perang
yang saat ini berkecamuk antara Iran dan AS/Israel membuat dunia menahan nafas.
Kecuali yang terlibat, negara-negara lain seperti Cina dan Rusia sekuat mungkin
menjaga diri untuk tidak salah langkah agar tidak membuat konflik ini meluas
dan memicu terjadinya perang dunia ketiga. Yang barangkali di luar dugaan banyak
orang adalah respon Iran yang sangat dahsyat terutama dari skala serangan,
kecanggihan teknologi rudal balistiknya, dan daya rusak gempurannya. Menyusul
serangan AS/Israel yang menewaskan Supreme Leader Ayatollah Ali K amenei,
Iran membalas tanpa jeda ke semua fasilitas strategis Israel di Tel Aviv, dan
pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan teluk.
Strategi
pecah belah Timur Tengah seperti yang diharapkan terjadi oleh AS/Israel di mana
negara-negara Arab sekutunya akan membalas Iran belum kelihatan berhasil.
Situasi ini menciptakan blunder dan membuat AS seperti kehilangan orientasi
perang. Mereka dipaksa untuk mendefinisikan ulang tujuan perang yang sudah
dimulai yang, oleh beberapa pengamat, disebut kurang perhitungan.
Sampai
di titik ini Amerika sedang mencoba
melihat lagi siapa dirinya setelah merasa ditipu habis-habisan dan dijerumuskan
dalam perang oleh Israel. Yang tersisa hanya upaya untuk bertahan dan terus
meyakin-yakinkan diri bahwa mereka masih memiliki kendali sebagai negara super power
dengan kekuatan militer terbesar di dunia, yang juga perlahan-lahan mulai
terkikis.
Argumen-argumen
yang biasanya mereka gunakan tampak tidak berhasil. Semua bentuk intervensi,
mulai dari intervensi demokrasi prosedural dengan tuduhan Iran negara otoriter
dan memobilisasi kerusuhan sosial, intervensi moderasi dengan tudingan negara
teroris, intervensi keamanan dengan tuduhan mengembangkan nuklir, intervensi
teologi dengan stigma “syi’ah bukan Islam”, tak berhasil membuat rezim Islam Iran
bertekuk lutut.
Ketika
perang ini betul-betul pecah dengan eskalasi yang terus meningkat, susunan
simbolik yang selama ini efektif menyelubungi ilusi Amerika, Israel, Timur Tengah, dan dunia
mengalami kekacauan atau kriris. Amerika sendiri bahkan tak benar-benar yakin
pada nama yang dipakainya untuk memahami perang ini. Kadang perang untuk
demokratisasi, kadang perang melawan nuklir, kadang perang untuk terorisme.
Belakangan mereka menyebutnya perang untuk mempercepat Armagedon dan datanganya
sang juru selamat. Ini menunjukkan sebetulnya mereka sendiri tidak yakin ini
perang apa dan perang untuk apa.
Berbeda
dengan Iran yang sudah punya posisi alasan jelas atas perang apa yang sedang
mereka jalani. Bagi Iran, susunan simbolik perang ini adalah “martabat”,
“kedaulatan”, “membalas pembunuhan Khamenei”, “kemerdekaan Palestina”, dan
“persatuan umat Islam. Siapapun yang berada dalam garis politik equality,
dignity dan freedom jelas mengambil posisi mendukung langkah
Iran. Iran punya dasar hak balas yang diakui hukum internasional ketika negara
lain menyerang tanpa alasan. Segera kelihatan bagi mereka yang berada dalam
garis politik ini bahwa kotak perang ini adalah antara imperialisme dan
anti-imperialisme.
Di
sisi lain mereka yang berada dalam garis politik yang susunan simboliknya
adalah demokratisasi-terorisme-antinuklir-penguasaan penuh Gaza berada
di pihak Trump dan Netanyahu. Itulah kenapa orang Iran yang masuk dalam garis
politik ini dan muak dengan rezim Khamenei merasa bahagia ketika ia terbunuh,
dan memandang orang-orang luar yang turut menangisi kepergiannya sebagai orang
bodoh yang tak tahu persoalan Iran sesungguhnya. Mereka ingin bangsa Persia
kembali ke masa sebelum 1978, sebelum revolusi Islam Iran terjadi, sebelum
rezim Islam Khamenei melenyapkan warisan budaya Persia karena dianggap tak
sesuai dengan Islam.
Mungkin
Trump dan Netanyahu tidak terlalu salah dalam mengambil tatanan simboliknya
untuk melandasi perang ini tapi yang
mereka tak lihat adalah efek antagonisme dari masing-masing elemen tata
simbolik itu yang ternyata mengubah susunan aliansinya. Aliansi lama sekutunya
dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) tak semua mendukungnya,
Spanyol, Inggris, Jerman, Belgia misalnya menolak terlibat. Meskipun juga Board
of Peace (BOP) yang digagasnya berhasil menarik negara yang sejak lama
berjuang demi kemerdekaan Palestina dalam semangat anti-imperialisme masuk
dalam susunan simbolik garis aliansi politiknya, Indonesia.
Garis
politik terhadap kemerdekaan Palestina yang baru kali ini dalam serajarah diubah
oleh presiden salah satu negara di Asia Tenggara itu menjadi pro Israel membuatnya
tak mampu mengeluarkan kata duka dan keprihatinan saat Khemenei terbunuh. Memang
akhirnya ia mengatakannya juga setelah didesak tapi ucapan itu tidak disertai
sikap mengecam keras serangan ilegal AS/Israel yang menewaskan Khamenei dan 167
anak-anak siswa sekolah dasar. Argumen non-block yang dirujuknya seperti
mengalami kelayuan politik dan tidak relevan karena bagaimana mungkin berada di
pihak ketiga untuk memediasi sementara ia sudah lebih dulu bergabung dalam
garis politik Trump dan Netanyahu.
Yang
juga menarik adalah antagonisme yang terbentuk di sekitar elemen simbolik
“Islam” dan “terorisme”. Meskipun Iran memobilisasi penanda sentral
“kemerdekaan Palestina” dalam susunan simboliknya, kelompok Islam di Indonesia yang
sejak lama diidentikkan dengan Islam Radikal, wahabisme, dan khilafahisme tampak
menjauh dari garis politik itu.
Meskipun
sejalan dengan Iran soal concern terhadap kemerdekaan Palestina, hanya
saja bagi mereka perang ini bukan pro-Palestina atau anti-Palestina, tapi
kotaknya adalah “Syi’ah dan Islam”, yang kadang dihaluskan dengan skema “Syi’ah
dan Sunni”. Mereka ingin berjuang demi Palestina tapi tidak jika bersama Iran
yang Syi’ah. Melawan stigma terorisme tetap penting karena stigma ini telah
banyak merugikan gerakan mereka tapi tidak jika itu dengan Iran.
Tidak
kalah menariknya adalah kelompok Islam yang cukup cepat memberi dukungan ketika
presidennya membawa negaranya masuk ke dalam garis politik Trump dan Netanyahu
dalam BOP. Penanda sentral “terorisme” membuatnya melihat proyek politik BOP masih
berada dalam kotak antagonisme antara “radikalisme beragama” dan “moderasi
beragama”. Tidak pernah diketahui secara terbuka apa yang membuat mereka
berubah arah setelah diundang ke istana.
Tidak
seperti kelompok di atas yang anti-Iran/Syi’ah, penanda “Islam” tidak membuatnya
masuk dalam kotak antagonisme antara “Islam Syi’ah dan Islam Sunni”, tapi
“Islam dan bukan Islam”, ini meringankannya dalam menyampaikan solidaritas melalui
prinsip ukhuwah islamiyah dan ukhuwah basyariyah atas kematian
Khamenei.
Kenapa
perang Iran versus AS/Israel ini menciptakan kekacauan dunia? Memang betul ia
menyebabkan kerusakan, kematian dan tragedi kemanusiaan yang brutal, tapi lebih
dari itu perang ini juga menciptakan pembentukan front pertempuran
politik yang meluas bahkan di luar relasi antagonisme utamanya—Iran vs
AS/Israel.
Kelompok-kelompok
sosial, negara bahkan individu seperti dipaksa mengevaluasi posisi diri dan
membuat mereka harus memilih elemen simbolik tertentu untuk menamai perang ini—Syi’ah,
Sunni, Islam, demokrasi, minyak, otoritarianisme, imperialisme dan seterusnya.
Masalahnya
elemen apapun yang dipilih akan tetap membawa ke salah satu dari kutub
antagonisme utama, anda bersama Iran atau Trump? Dengan memperhatikan susunan
simbolik yang terajut dalam relasi antagonisme tersebut kita jadi bisa memahami
kenapa banyak orang Iran bisa benci Khamenei, orang Israel bisa tidak suka
Netanyahu, orang Amerika memaki-maki Trump.
Mereka,
di negaranya masing-masing, juga terbelah dalam antagonisme politik yang sama
antara Iran atau Trump/Netanyahu. Kembali ke Ernesto Laclu, ia mengatakan bahwa
dalam situasi seperti ini, yang kita saksikan adalah “sosial” (masyarakat) yang
sedang terbelah-belah dalam banyak sekali medan perpolitikan dan situasi ini
memang sangat traumatik sebelum terbentuknya “sosial” yang baru.
Kita
melihat dunia yang berubah, dunia yang sedang membentuk polarisasi (antagonisme)
baru karena polarisasi lama sudah tak relevan. Kalau begitu, dalam konteks ini,
Trump dan Khamenei itu pejahat atau kita sebetulnya perlu berterima kasih pada
mereka karena sedang membawa dunia ini dalam tatanan baru yang meskipun belum
tentu menjamin semuanya lebih baik. Tentu saja jawabannya tergantung pada posisi
garis politik anda masing-masing.
Mediasi
yang diusulkan presiden salah satu negara di Asia Tenggara itu mungkin masih
relevan hanya saja kalau tidak paham peta medan antagonisme ini, bukannya
membawa ke antagonisme baru untuk mengatasi relasi politik lama, tapi malah
membuat antagonisme yang ada makin mengeras. Kalaupun memediasi harus bisa
membawa medan antagonisme baru yang memungkinkan kedua belah pihak bisa ketemu,
tapi rasanya masih terlalu pagi, karena kandidat susunan simbolik yang baru belum
tampak muncul.
Referensi
Laclau,
E., & Mouffe, C. (1985/2001). Hegemony and Socialist Strategy: Towards a
Radical Democratic Politics. London: Verso.
Laclau,
E. (2005). On populist reason. Verso.
Tohari,
A. dkk. (2022). Politisasi Politik: Diskursus, Populisme, dan Demokrasi:
Bagaimana Melakukan Riset Menggunakan Teori Diskursus Laclau. Yogyakarta:
Sekolah Riset Satukata.
Tohari,
A. dkk. (2023). Diskursus dan Analisa Politik: Memahami Politik dengan Cara
Tidak Biasa. Yogyakarta: Sekolah
Riset Satukata.
Tohari,
A. dkk. (2024). Logika Populisme: Strategi Baru Kepemimpinan Demokrasi.
Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.
0 Komentar