Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Ini Perang Apa? Menimbang Mediasi di Tengah Puncak Antagonisme Politik Internasional

 


Ilustration by canva


Dr. Amin Tohari 

Apa yang terjadi di kawasan Teluk sekarang ini mengingatkan sesuatu yang pernah ditulis seorang ilmuan politik kontemporer Ernesto Laclau dalam karya-karyanya seperti Hegemony and Socialist Strategy; Toward a Radical Politic Democratic (1985), juga dalam On Populist Reason (2005). Dalam buku-buku tersebut ia mengatakan ketika garis politik (political frontier) terbentuk tidak ada pilihan ketiga, pilihannya hanya ada dua, anda bersama kami atau bersama mereka. Titik.

Selama ini orang mengira kalau netral itu di luar antagonisme politik yang ada, menurut Laclau, tidak. Bahkan menempati posisi netral juga tetap sama karena garis politiknya menjadi antara “yang netral” dan “yang tidak netral”. Dalam medan pertempuran politik yang sudah memuncak hampir bisa dipastikan tidak ada yang keluar dari relasi politik (antagonisme). Itulah sebabnya kenapa duta besar Iran mengatakan untuk waktu sekarang ini usulan memediasi konflik adalah usulan yang belum tepat.

Perang yang saat ini berkecamuk antara Iran dan AS/Israel membuat dunia menahan nafas. Kecuali yang terlibat, negara-negara lain seperti Cina dan Rusia sekuat mungkin menjaga diri untuk tidak salah langkah agar tidak membuat konflik ini meluas dan memicu terjadinya perang dunia ketiga. Yang barangkali di luar dugaan banyak orang adalah respon Iran yang sangat dahsyat terutama dari skala serangan, kecanggihan teknologi rudal balistiknya, dan daya rusak gempurannya. Menyusul serangan AS/Israel yang menewaskan Supreme Leader Ayatollah Ali K amenei, Iran membalas tanpa jeda ke semua fasilitas strategis Israel di Tel Aviv, dan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan teluk.

Strategi pecah belah Timur Tengah seperti yang diharapkan terjadi oleh AS/Israel di mana negara-negara Arab sekutunya akan membalas Iran belum kelihatan berhasil. Situasi ini menciptakan blunder dan membuat AS seperti kehilangan orientasi perang. Mereka dipaksa untuk mendefinisikan ulang tujuan perang yang sudah dimulai yang, oleh beberapa pengamat, disebut kurang perhitungan.   

Sampai di titik ini Amerika sedang  mencoba melihat lagi siapa dirinya setelah merasa ditipu habis-habisan dan dijerumuskan dalam perang oleh Israel. Yang tersisa hanya upaya untuk bertahan dan terus meyakin-yakinkan diri bahwa mereka masih memiliki kendali sebagai negara super power dengan kekuatan militer terbesar di dunia, yang juga perlahan-lahan mulai terkikis.

Argumen-argumen yang biasanya mereka gunakan tampak tidak berhasil. Semua bentuk intervensi, mulai dari intervensi demokrasi prosedural dengan tuduhan Iran negara otoriter dan memobilisasi kerusuhan sosial, intervensi moderasi dengan tudingan negara teroris, intervensi keamanan dengan tuduhan mengembangkan nuklir, intervensi teologi dengan stigma “syi’ah bukan Islam”, tak berhasil membuat rezim Islam Iran bertekuk lutut.

Ketika perang ini betul-betul pecah dengan eskalasi yang terus meningkat, susunan simbolik yang selama ini efektif menyelubungi ilusi  Amerika, Israel, Timur Tengah, dan dunia mengalami kekacauan atau kriris. Amerika sendiri bahkan tak benar-benar yakin pada nama yang dipakainya untuk memahami perang ini. Kadang perang untuk demokratisasi, kadang perang melawan nuklir, kadang perang untuk terorisme. Belakangan mereka menyebutnya perang untuk mempercepat Armagedon dan datanganya sang juru selamat. Ini menunjukkan sebetulnya mereka sendiri tidak yakin ini perang apa dan perang untuk apa.

Berbeda dengan Iran yang sudah punya posisi alasan jelas atas perang apa yang sedang mereka jalani. Bagi Iran, susunan simbolik perang ini adalah “martabat”, “kedaulatan”, “membalas pembunuhan Khamenei”, “kemerdekaan Palestina”, dan “persatuan umat Islam. Siapapun yang berada dalam garis politik equality, dignity dan freedom jelas mengambil posisi mendukung langkah Iran. Iran punya dasar hak balas yang diakui hukum internasional ketika negara lain menyerang tanpa alasan. Segera kelihatan bagi mereka yang berada dalam garis politik ini bahwa kotak perang ini adalah antara imperialisme dan anti-imperialisme.

Di sisi lain mereka yang berada dalam garis politik yang susunan simboliknya adalah demokratisasi-terorisme-antinuklir-penguasaan penuh Gaza berada di pihak Trump dan Netanyahu. Itulah kenapa orang Iran yang masuk dalam garis politik ini dan muak dengan rezim Khamenei merasa bahagia ketika ia terbunuh, dan memandang orang-orang luar yang turut menangisi kepergiannya sebagai orang bodoh yang tak tahu persoalan Iran sesungguhnya. Mereka ingin bangsa Persia kembali ke masa sebelum 1978, sebelum revolusi Islam Iran terjadi, sebelum rezim Islam Khamenei melenyapkan warisan budaya Persia karena dianggap tak sesuai dengan Islam.

Mungkin Trump dan Netanyahu tidak terlalu salah dalam mengambil tatanan simboliknya untuk melandasi perang  ini tapi yang mereka tak lihat adalah efek antagonisme dari masing-masing elemen tata simbolik itu yang ternyata mengubah susunan aliansinya. Aliansi lama sekutunya dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) tak semua mendukungnya, Spanyol, Inggris, Jerman, Belgia misalnya menolak terlibat. Meskipun juga Board of Peace (BOP) yang digagasnya berhasil menarik negara yang sejak lama berjuang demi kemerdekaan Palestina dalam semangat anti-imperialisme masuk dalam susunan simbolik garis aliansi politiknya, Indonesia.

Garis politik terhadap kemerdekaan Palestina yang baru kali ini dalam serajarah diubah oleh presiden salah satu negara di Asia Tenggara itu menjadi pro Israel membuatnya tak mampu mengeluarkan kata duka dan keprihatinan saat Khemenei terbunuh. Memang akhirnya ia mengatakannya juga setelah didesak tapi ucapan itu tidak disertai sikap mengecam keras serangan ilegal AS/Israel yang menewaskan Khamenei dan 167 anak-anak siswa sekolah dasar. Argumen non-block yang dirujuknya seperti mengalami kelayuan politik dan tidak relevan karena bagaimana mungkin berada di pihak ketiga untuk memediasi sementara ia sudah lebih dulu bergabung dalam garis politik Trump dan Netanyahu.

Yang juga menarik adalah antagonisme yang terbentuk di sekitar elemen simbolik “Islam” dan “terorisme”. Meskipun Iran memobilisasi penanda sentral “kemerdekaan Palestina” dalam susunan simboliknya, kelompok Islam di Indonesia yang sejak lama diidentikkan dengan Islam Radikal, wahabisme, dan khilafahisme tampak menjauh dari garis politik itu.

Meskipun sejalan dengan Iran soal concern terhadap kemerdekaan Palestina, hanya saja bagi mereka perang ini bukan pro-Palestina atau anti-Palestina, tapi kotaknya adalah “Syi’ah dan Islam”, yang kadang dihaluskan dengan skema “Syi’ah dan Sunni”. Mereka ingin berjuang demi Palestina tapi tidak jika bersama Iran yang Syi’ah. Melawan stigma terorisme tetap penting karena stigma ini telah banyak merugikan gerakan mereka tapi tidak jika itu dengan Iran.

Tidak kalah menariknya adalah kelompok Islam yang cukup cepat memberi dukungan ketika presidennya membawa negaranya masuk ke dalam garis politik Trump dan Netanyahu dalam BOP. Penanda sentral “terorisme” membuatnya melihat proyek politik BOP masih berada dalam kotak antagonisme antara “radikalisme beragama” dan “moderasi beragama”. Tidak pernah diketahui secara terbuka apa yang membuat mereka berubah arah setelah diundang ke istana.

Tidak seperti kelompok di atas yang anti-Iran/Syi’ah, penanda “Islam” tidak membuatnya masuk dalam kotak antagonisme antara “Islam Syi’ah dan Islam Sunni”, tapi “Islam dan bukan Islam”, ini meringankannya dalam menyampaikan solidaritas melalui prinsip ukhuwah islamiyah dan ukhuwah basyariyah atas kematian Khamenei.

Kenapa perang Iran versus AS/Israel ini menciptakan kekacauan dunia? Memang betul ia menyebabkan kerusakan, kematian dan tragedi kemanusiaan yang brutal, tapi lebih dari itu perang ini juga menciptakan pembentukan front pertempuran politik yang meluas bahkan di luar relasi antagonisme utamanya—Iran vs AS/Israel.

Kelompok-kelompok sosial, negara bahkan individu seperti dipaksa mengevaluasi posisi diri dan membuat mereka harus memilih elemen simbolik tertentu untuk menamai perang ini—Syi’ah, Sunni, Islam, demokrasi, minyak, otoritarianisme, imperialisme dan seterusnya.

Masalahnya elemen apapun yang dipilih akan tetap membawa ke salah satu dari kutub antagonisme utama, anda bersama Iran atau Trump? Dengan memperhatikan susunan simbolik yang terajut dalam relasi antagonisme tersebut kita jadi bisa memahami kenapa banyak orang Iran bisa benci Khamenei, orang Israel bisa tidak suka Netanyahu, orang Amerika memaki-maki Trump.

Mereka, di negaranya masing-masing, juga terbelah dalam antagonisme politik yang sama antara Iran atau Trump/Netanyahu. Kembali ke Ernesto Laclu, ia mengatakan bahwa dalam situasi seperti ini, yang kita saksikan adalah “sosial” (masyarakat) yang sedang terbelah-belah dalam banyak sekali medan perpolitikan dan situasi ini memang sangat traumatik sebelum terbentuknya “sosial” yang baru.

Kita melihat dunia yang berubah, dunia yang sedang membentuk polarisasi (antagonisme) baru karena polarisasi lama sudah tak relevan. Kalau begitu, dalam konteks ini, Trump dan Khamenei itu pejahat atau kita sebetulnya perlu berterima kasih pada mereka karena sedang membawa dunia ini dalam tatanan baru yang meskipun belum tentu menjamin semuanya lebih baik. Tentu saja jawabannya tergantung pada posisi garis politik anda masing-masing.

Mediasi yang diusulkan presiden salah satu negara di Asia Tenggara itu mungkin masih relevan hanya saja kalau tidak paham peta medan antagonisme ini, bukannya membawa ke antagonisme baru untuk mengatasi relasi politik lama, tapi malah membuat antagonisme yang ada makin mengeras. Kalaupun memediasi harus bisa membawa medan antagonisme baru yang memungkinkan kedua belah pihak bisa ketemu, tapi rasanya masih terlalu pagi, karena kandidat susunan simbolik yang baru belum tampak muncul.  

 

Referensi

Laclau, E., & Mouffe, C. (1985/2001). Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics. London: Verso.

Laclau, E. (2005). On populist reason. Verso.

Tohari, A. dkk. (2022). Politisasi Politik: Diskursus, Populisme, dan Demokrasi: Bagaimana Melakukan Riset Menggunakan Teori Diskursus Laclau. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

Tohari, A. dkk. (2023). Diskursus dan Analisa Politik: Memahami Politik dengan Cara Tidak Biasa. Yogyakarta: Sekolah  Riset Satukata.

Tohari, A. dkk. (2024). Logika Populisme: Strategi Baru Kepemimpinan Demokrasi. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

 

 


0 Komentar