Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Mens Rea Pandji, Ilusi dan Politik Emansipasi Posmarxisme

 

Gambar. Dokumen Sekolah Riset Satukata

Dr. Amin Tohari

Meskipun dunia sedang tidak baik-baik saja, tapi ada tiga kabar baik di awal tahun ini. Yang pertama adalah di bulan Januari lalu sebuah stand-up comedy mendapatkan perhatian yang jauh lebih luas dari sebelumnya. Jika sebelumnya hanya dilihat semata soal entertainment, sekarang ia bukan lagi sekadar pertunjukan orang melucu melainkan cara menyampaikan kritik pada kekuasaan.

Kabar kedua adalah kehadiran buku Politik Emansipasi: Opresi, Resistensi dan Subjek Revolusioner. Buku ini menarik. Ia memuat ringkasan paling penting dari dua belas orang peneliti, yang hasil risetnya masih sangat relevan untuk diaplikasikan, dipelajari dan dikembangkan.  

Kabar baik ketiga adalah pertautan antara pertunjukkan Mens Rea Pandji Pragiwaksono yang sempat viral dengan terbitnya buku politik emansipasi yang ditulis oleh Fredick Broven Ekayanta, seorang dosen muda kritis dari departemen ilmu politik Universitas Sumatera Utara Medan. Bung Fred, begitu biasanya ia dipanggil, adalah seorang pembelajar yang sangat tekun di Sekolah Riset Satukata. Mungkin sudah sekitar lebih dari sepuluh kelas yang diikutinya.

Untuk membahas tiga hal itu kita mulai dengan bertanya, “Apa yang bisa kita dapatkan kalau kita menggunakan politik emansipasi untuk membaca Mens Rea Pandji?”. Sebelum membahasnya lebih jauh, kita coba kulik dulu apa isi buku tersebut.

Buku setebal 225 halaman itu terdiri dari 11 bagian pembahasan atau bab. Setiap babnya membicarakan bangunan teori yang dihasilkan dari penelitian panjang oleh 10 orang peneliti. Sepuluh peneliti tersebut adalah Jurgen Habermas, Cornelius Castoriadis, Gilles Deleuze & Felix Guattari, Antonio Negri, Judith Butler, Jean Francois-Lyotard, Giorgio Agamben, Slavoj Zizek, Alain Badiou, dan yang terakhir Ernesto Laclau.

Kesepuluh orang peneliti itu menjawab pertanyaan sangat mendasar yaitu bagaimana di zaman yang baru ini kita menjalankan politik emansipasi. Buku ini sangat baik dalam misalnya menjawab pertanyaan yang sering digelisahkan banyak orang terkait dengan reformasi, “kenapa meskipun sudah lebih dari dua dekade ini kita menjalankan reformasi tapi kondisi kita tak banyak berubah?”. Semua rasanya masih di sekitar situ saja. Tak bisa dipungkiri memang bahwa mungkin kita telah berubah dalam banyak hal tapi kok rasa-rasanya semua itu hanya ilusi. Atau jangan-jangan kita memang selalu butuh ilusi yang berfungsi seperti telah membawa kita dalam keadaan yang seolah sudah baru.

Pertanyaan lain yang juga biasanya dikaitkan dengan pertanyaan pertama di atas adalah kenapa mereka yang dulu mengkritik sistem lama setelah berkuasa kelakuannya kok sama saja bahkan lebih parah. Malahan beberapa pengamat mengatakan mereka yang sekarang ini berkuasa kuat sekali menunjukkan kesan ingin mengembalikan sistem lama Orba.

Memang ada banyak jawaban yang bisa diajukan untuk merespon pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tapi buku ini mengajak untuk keluar dari semua jawaban mainstream yang selama ini tersedia dan sepertinya kita harus mencurigai jangan-jangan jawabannya ada dalam cara bagaimana kita selama ini memahami politik emansipasi (posmarxisme). Gejala-gelaja dari ketiadaan politik emansipasi posmarxisme dalam era reformasi ini misalnya terungkap dalam kata-kata, “perubahan kita hanya bersifat parsial dan teknikal, kita tidak pernah berubah secara subtansial”.

Ini pula yang terus menghantui para aktivis demokrasi yang berkali-kali melakukan survei demokrasi dan secara berulang juga kecewa karena menemukan jawaban bahwa demokrasi yang kita praktikkan sejauh ini hanya berjalan secara prosedural dan makin menjauh dari demokrasi subtansial. Kita dibuat sibuk dengan urusan aturan, prosedur, tata kelola kelembagaan, survei pemenangan dan seterusnya tapi lupa pada cita-cita demokrasi yang sesungguhnya.

Belakangan bahkan demokrasi tidak lagi dilihat sebagai persoalan keadilan melainkan urusan penghematan anggaran. Pembingkaian bahwa demokrasi mahal justru datang dari para politisi yang selama ini diuntungkan oleh demokrasi. Mereka mencoba mengidentikkan demokrasi dengan biaya politik mahal padahal yang mahal bukan demokrasinya tapi praktik berpolitik yang transaksional. Mereka ingin tetap berkuasa tapi dengan biaya politik yang murah dan sistem yang disederhanakan. Secara tanpa disadari cara berpikir ini bersumber dari pengajaran ilmu politik yang entah bagaimana membuat masyarakat, termasuk para politisi itu, menganggap kalau demokrasi itu urusannya hanyalah soal pemilihan jabatan publik. Sehingga selama reformasi berlangsung sampai saat ini kita semua disibukkan dengan bongkar pasang sistem pemilihan pejabat publik. Sementara demokrasinya tinggal seperti bayang-bayang di kejauhan yang hampir hilang di telan malam.

Membaca buku politik emansipasi posmarxime tersebut kita akan dibawa untuk melihat banyak perspektif yang berbeda-beda dalam bagaimana melakukan perlawanan terhadap struktur penindasan yang beroperasi dengan sangat rapi hingga bahkan kita tidak pernah menyadarinya. Alih-alih menyadari, yang terjadi justru menganggap penindasan itu sebagai hal yang sudah lumrah atau malah sebuah keharusan. Akibatnya kita tidak pernah mempertanyakannya lagi. Bahkan bertanyapun bisa dianggap kesalahan. Situasi ini berbahaya karena itu pertanda bahwa politik sedang pelan-pelan dilenyapkan.

Upaya melenyapkan politik bukan hanya muncul misalnya dalam gejala mengidentikkan demokrasi dengan pemborosan anggaran demi supaya pemborosan anggaran di tempat lain seperti MBG dianggap legitimate. Tapi coba perhatikan bagaimana dalam cerita tentang efisiensi, pertanyaan tentang untuk keperluan apa anggaran yang diefisienkan itu dan kelompok siapa yang memperoleh keuntungan besar darinya tidak pernah secara terbuka didiskusikan. Semua berjalan dengan tiba-tiba lalu kekonyolan-kekonyolan muncul di mana-mana.    

Karena itu mungkin kita perlu memberi apresiasi pada pertunjukan Mens Rea Panji bulan Januari itu. Kritiknya tajam dan mengguncang. Pihak-pihak yang merasa dilucukannya mencoba menyerang. Sebagian yang lain menganggap kritik itu suatu yang diperlukan, jadi tak perlu baper dan dipermasalahkan.

Kalau kita perhatikan, dari sisi materinya, sebetulnya tidak ada yang baru. Apa yang diceritakannya adalah ha-hal yang selama ini bertebaran di masyarakat, di media massa, di media sosial.  Kemampuan stand up yang dimiliki Pandji membuat bahan-bahan yang sudah ada itu bisa tampil secara satir dan menciptakan ironi. Tapi justru karena itu orang-orang meskipun merasa tertampar tapi sekaligus bisa tertawa. Apa yang dilakukan Pandji sebetulnya melubangi ilusi yang dengan jumawa dan berlagak sedang dibangun oleh rezim sekarang ini. Meskipun ia juga melakukannya dengan menciptakan ilusi baru.

Seperti nanti yang anda akan bisa temui saat membaca buku politik emansipasi, ilusi memiliki peran sangat penting dalam mendorong perubahan. Kita semua butuh ilusi untuk bisa menjalani hidup ini dengan cukup meyakinkan. Ia juga membuat kita merasa berada di pihak yang benar. Amerika menyerang Iran karena ilusinya sebagai negara super power sedang krisis. Israel membombardir negara-negera Timur Tengah karena ilusi tentang Greater Israel berdasar kitab sucinya. Dan Iran berhasil menjaga ilusinya sebagai negara Islam yang cukup berhasil membuatnya bertahan meskipun diembargo sana-sini. Tapi ilusi ini juga yang menjadikannya tak takut menantang upaya pemaksaan ilusi super power Amerika dan Israel. Berbeda dengan Indonesia yang lama membangun ilusi sebagai negara yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah justru mengakhiri ilusi itu dengan tunduk pada agenda imperialisme yang bersembunyi di balik dalih perdamaian dunia.

Setiap ilusi selalu akan mengalami krisis karena itulah ia disebut ilusi. Persoalannya adalah kalau ia betul-betul runtuh maka kita akan kehilangan arah dan ini masalah yang sangat serius. Itulah kenapa orang atau negara akan melakukan apa saja untuk menjaganya dan mempertahankannya, mungkin lewat perang, mungkin juga lewat MBG. Sebuah ilusi berada di puncak kekuatannya ketika yang mempercayainya menganggap itu bukan ilusi.

 

Referensi

Ekayanta, F.B. (2026) Politik Emansipasi: Opresi, Resistensi dan Subjek Revolusioner. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

Samadhi, W.P. and Warouw, N. (2009) Building Democracy on the Sand: Advances and Setbacks in Indonesia. Jakarta dan Yogyakarta: Demos dan PCD Press.

Saravanamuttu, J. (1995) ‘Post-Marxism: Implications for Political Theory and Practice’, Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, 10 (1), pp. 45–64. Available at: http://www.jstor.org/stable/41056902

Sharpe, M. and Boucher, G. (2010) Žižek and Politics: A Critical Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press. Available at: http://www.jstor.org/stable/10.3366/j.ctt1g09wx4

Stavrakakis, Y. (2002) Lacan and the Political. New York: Routledge.






















0 Komentar