Dr. Amin Tohari
Entah kita sadari atau tidak, dunia yang kita tinggali ini, dipimpin oleh pengetahuan. Apapun yang kita lakukan, untuk bisa diterima, harus dirujukkan pada pengetahuan tertentu tersebut. Pengetahuan ini memerankan fungsi sangat penting dalam hampir segala bidang kehidupan.
Mulai dari bagaimana caranya pintar, bagaimana menjadi cantik dan good
looking, apa yang harus dilakukan untuk sehat, tips-tips meraih
kebahagiaan, caranya menjadi kaya raya, cara memulihkan diri setelah dihantam
musibah, dan sebagainya.
Kalau kita bingung, kita akan bertanya pada pengetahuan, dan ia akan memberitahu secara lengkap, kenapa kita bingung dan resah, dan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya.
Demikian
juga kalau kita jatuh bangkrut, tidak lulus tes CPNS, gagal menikah, atau tak
bisa memutuskan antara terus bekerja di tempat yang sudah toxic dan resign
dari kantor.
Pengetahuan akan memberitahu kita
semuanya. Pendek kata, pengetahuan itu sekarang sudah serba tahu, serba
mengerti, serba melingkupi. Pengetahuan ini juga mendorong kita, manusia ini,
mengembangkan cara untuk mengetahui segala hal yang belum kita ketahui.
Berbeda dengan zaman sebelumnya
di mana pengetahuan itu terbatas. Ia dianggap hanya dimiliki oleh orang-orang khusus.
Orang-orang itu menjadi khusus karena punya kelebihan yang membuatnya bisa
mengakses pengetahuan dari sumber yang berada di luar dunia manusia.
Mereka kemudian menjadi tempat
bertanya dan memperoleh penjelasan atas apa saja yang dialami manusia. Mereka
memberi tahu apa yang baik dan tidak baik, apa yang boleh dan tidak boleh, apa
yang benar dan salah, apa yang bagus dan apa yang jelek, dan apa yang akan
terjadi di masa mendatang.
Oleh pengetahuan yang sekarang ini kita anut (science), zaman itu disebut dengan zaman kegelapan. Pengetahuan mereka, orang-orang khusus itu, kini dianggap tak berdasar dan tak bisa dibuktikan, karena itu ia tak bisa lagi dijadikan pegangan.
Agar bisa keluar
dari kuasa pengaruh zaman lampau itu, kita semua sekarang diharuskan mampu
memproduksi pengetahuan sendiri dengan metode yang terukur. Tidak boleh ada
orang yang menyembunyikan cara bagaimana ia memproduksi pengetahuan.
Pengetahuan itu juga bisa menjadikan kita apa saja asalkan kita bersedia mensubmit diri kita ke dalamnya. Ia bisa menentukan kita akan jadi apa.
Kalau misalnya anda mau jadi dokter maka
anda harus mensubmit diri anda ke dalam pengetahuan kedokteran, dan sim
salabim, pengetahuan kedokteran ini akan menjadikan anda seorang dokter.
Kalau anda mau jadi pilot, guru, ustaz,
kyai, advokat, penyanyi, seniman dan sebagainya, proses dan mekanismenya sama
saja. Pada masing-masing profesi itu sudah ada pengetahuan yang terkodifikasi dan
untuk menjadi sesuatu anda tinggal mengadopsinya saja.
Pengetahuan yang bisa memimpin
kita ini harus memenuhi syarat sebagai pengetahuan yang ilmiah. Kalau tidak
ilmiah ia akan dianggap tidak mengandung kebenaran dan otomatis tak boleh
dipercaya.
Pengetahuan yang disebut ilmiah
ini bukan pengetahuan yang sudah ada sejak dulu kala. Ternyata pengetahuan ini
usianya baru sekitar 5 abad saja sejak proyek enlighment mulai muncul di
akhir abad 17 sampai awal abad 19. Pengetahuan ini menjadi cikal bakal dari
terbentuknya masyarakat modern di mana kita semua ada di dalamnya sekarang.
Ciri lain yang melekat dalam pengetahuan ilmiah ini adalah harus berorientasi problem solving untuk mendukung kehidupan yang progressing. Supaya bisa melakukan ini, si pengetahuan tersebut dibuat hanya membicarakan sesuatu di luar dirinya saja karena memang fungsi utamanya adalah melakukan kontrol.
Misalnya bagaimana caranya membuat orang bisa antri dengan tertib di stasiun atau bagaimana caranya semua siswa bisa lulus dengan nilai bagus, bagaimana caranya masyarakat disiplin tidak membuang sampah ke sungai, dan seterusnya.
Pengetahuan jenis ini lalu seperti memaksa kita untuk menerima bahwa berilmu itu sederhana saja urusannya yaitu menjelaskan (explaining) dunia, lebih khusus lagi menjelaskan cara beroperasinya. Itu saja.
Terhadap ajakan untuk misalnya menggeser sedikit saja
orientasi berilmu ini ke arah yang lain, pengetahuan ini akan mengeluarkan
kata-kata, “ah itu berat”, atau “ah itu rumit”, “saya mau yang
gampang-gampang saja”, “yang penting cepat lulus”, “yang penting
dapat gelar”, atau “ilmu saya ini ilmu terapan”.
Dalam bentuk yang agak lebih pajang, celetukan-celetukan pendek itu senada dengan ungkapan salah satu penulis di media massa online populer, “rasanya naif kalau tujuan kuliah hanya soal membangun mindset, dan mencari ilmu” ("Lulusan UIN Skill-nya di Bawah Rata-rata, dan Inilah Penyebabnya"). Kata-kata ini persis seperti yang diinginkan oleh pengetahuan mainstream itu untuk dinyatakan sekaligus menunjukkan kekuatan dominasinya.
Tapi bukan berarti maksud pengetahuan
jenis yang ini tidak penting. Tentu saja kita harus berterima kasih atas
kontribusinya bagi dunia ini. Persoalannya adalah ketika pengetahuan ini terus
berusaha mengesankan kalau berpengetahuan itu caranya hanya itu saja. Yang lain
boleh ada tapi cukup sebut “alternatif” saja.
Masalahnya lagi ternyata upaya ke
arah sana dilakukan dengan sangat innocent, misalnya kalau anda mau
menghasilkan ilmu caranya hanya dua saja, yaitu kualitatif atau kuantitatif.
Berilmu itu urusannya hanya membuktikan saja (verfication). Sudah.
Dalam perkembangannya, pengetahuan ini juga menyediakan cara bagaimana sebuah pengetahuan itu harus ditulis dan dilaporkan. Di situ ada aturannya, ada templatenya, ada urutannya, ada sistematikanya.
Awalnya hanya semacam panduan tapi lama-lama
jadi standar penulisan ilmiah yang dibakukan. Efeknya, kalau kita menulis tidak
dengan cara itu bisa dianggap tidak ilmiah, dan kalau menulis dengan cara lain
dibilang “ah berat”.
Kritik terhadap cara menulis ilmu yang demikian itu sebetulnya sudah ada sejak lama tapi entah kenapa tidak diberitahukan, apalagi dianjurkan, lebih-lebih lagi diajarkan dan dilatihkan.
Di
beberapa tempat malah sama sekali tidak diperbolehkan. Inilah sebab kenapa kita
harus menulis dan berpengetahuan dengan cara lain. Salah satunya adalah menulis
dengan cara reflexivisme.
Seriestiga-10 yang akan
diselenggarakan Sekolah Riset Satukata bulan April mendatang khusus didesain
untuk mengenalkan cara tersebut. Di sini anda akan diajak untuk berani berbeda
dari mainstream dalam berpengetahuan dan mencoba cara lain menuliskan
hasilnya.
Cara ini telah dipakai oleh para
peneliti dan ilmuan yang memiliki concern terhadap bagaimana dunia ini
tercipta (constituting) bukan sekadar menjelaskan cara beroperasinya
saja (explaining). Kalau cara mainstream membicarakan hal-hal di
luar pengetahuan dalam rangka membangun dan mengembangkannya.
Reflexivisme mengajak untuk
menjadikan pengetahuan itu sebagai titik mulai dalam berilmu pengetahuan, karena
jangan-jangan masalahnya selama ini memang ada pada pengetahuan atau dalam
praktik berpengetahuan itu sendiri.
Kelas ini sendiri dibagi dalam
tiga rangkaian kelas. Sekuen yang pertama membahas bagaimana reflexivisme
sebagai metodologi berilmu bekerja, apa saja asumsi-asumsi dasarnya dan
bagaimana membedakannya dengan yang mainstream.
Sekuen yang kedua peserta
diajak untuk menulis dengan cara reflexivisme yang pernah dilakukan oleh Michel
Foucault. Cara menulis Ernesto Laclau akan menjadi latihan lain yang disajikan
pada sekuen ketiga.
Terkait dengan apa saja yang
secara spesifik dibahas sepanjang kelas, silahkan kulik tautan berikut ini: https://youtu.be/gWJR8OxCFek

.png)
0 Komentar