Selamat Datang di Sekolah Riset Satukata, Untuk informasi Kelas Riset dapat langsung menghubungi 082223235503

Seriestiga-10: Mungkinkah Keluar dari Metode Kwali-Kwanti, dan Kenapa Perlu Menulis dengan Cara Reflexivisme?

 



sekolah riset satukata,-

Dr. Amin Tohari

 

Entah kita sadari atau tidak, dunia yang kita tinggali ini, dipimpin oleh pengetahuan. Apapun yang kita lakukan, untuk bisa diterima, harus dirujukkan pada pengetahuan tertentu tersebut. Pengetahuan ini memerankan fungsi sangat penting dalam hampir segala bidang kehidupan. 

Mulai dari bagaimana caranya pintar, bagaimana menjadi cantik dan good looking, apa yang harus dilakukan untuk sehat, tips-tips meraih kebahagiaan, caranya menjadi kaya raya, cara memulihkan diri setelah dihantam musibah, dan sebagainya.

Kalau kita bingung, kita akan bertanya pada pengetahuan, dan ia akan memberitahu secara lengkap, kenapa kita bingung dan resah, dan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya. 

Demikian juga kalau kita jatuh bangkrut, tidak lulus tes CPNS, gagal menikah, atau tak bisa memutuskan antara terus bekerja di tempat yang sudah toxic dan resign dari kantor.

Pengetahuan akan memberitahu kita semuanya. Pendek kata, pengetahuan itu sekarang sudah serba tahu, serba mengerti, serba melingkupi. Pengetahuan ini juga mendorong kita, manusia ini, mengembangkan cara untuk mengetahui segala hal yang belum kita ketahui.

Berbeda dengan zaman sebelumnya di mana pengetahuan itu terbatas. Ia dianggap hanya dimiliki oleh orang-orang khusus. Orang-orang itu menjadi khusus karena punya kelebihan yang membuatnya bisa mengakses pengetahuan dari sumber yang berada di luar dunia manusia.

Mereka kemudian menjadi tempat bertanya dan memperoleh penjelasan atas apa saja yang dialami manusia. Mereka memberi tahu apa yang baik dan tidak baik, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang benar dan salah, apa yang bagus dan apa yang jelek, dan apa yang akan terjadi di masa mendatang.  

Oleh pengetahuan yang sekarang ini kita anut (science), zaman itu disebut dengan zaman kegelapan. Pengetahuan mereka, orang-orang khusus itu, kini dianggap tak berdasar dan tak bisa dibuktikan, karena itu ia tak bisa lagi dijadikan pegangan. 

Agar bisa keluar dari kuasa pengaruh zaman lampau itu, kita semua sekarang diharuskan mampu memproduksi pengetahuan sendiri dengan metode yang terukur. Tidak boleh ada orang yang menyembunyikan cara bagaimana ia memproduksi pengetahuan.

Pengetahuan itu juga bisa menjadikan kita apa saja asalkan kita bersedia mensubmit diri kita ke dalamnya. Ia bisa menentukan kita akan jadi apa. 

Kalau misalnya anda mau jadi dokter maka anda harus mensubmit diri anda ke dalam pengetahuan kedokteran, dan sim salabim, pengetahuan kedokteran ini akan menjadikan anda seorang dokter.

Kalau anda mau jadi pilot, guru, ustaz, kyai, advokat, penyanyi, seniman dan sebagainya, proses dan mekanismenya sama saja. Pada masing-masing profesi itu sudah ada pengetahuan yang terkodifikasi dan untuk menjadi sesuatu anda tinggal mengadopsinya saja.

Pengetahuan yang bisa memimpin kita ini harus memenuhi syarat sebagai pengetahuan yang ilmiah. Kalau tidak ilmiah ia akan dianggap tidak mengandung kebenaran dan otomatis tak boleh dipercaya.

Pengetahuan yang disebut ilmiah ini bukan pengetahuan yang sudah ada sejak dulu kala. Ternyata pengetahuan ini usianya baru sekitar 5 abad saja sejak proyek enlighment mulai muncul di akhir abad 17 sampai awal abad 19. Pengetahuan ini menjadi cikal bakal dari terbentuknya masyarakat modern di mana kita semua ada di dalamnya sekarang.

Ciri lain yang melekat dalam pengetahuan ilmiah ini adalah harus berorientasi problem solving untuk mendukung kehidupan yang progressing. Supaya bisa melakukan ini, si pengetahuan tersebut dibuat hanya membicarakan sesuatu di luar dirinya saja karena memang fungsi utamanya adalah melakukan kontrol. 

Misalnya bagaimana caranya membuat orang bisa antri dengan tertib di stasiun atau bagaimana caranya semua siswa bisa lulus dengan nilai bagus, bagaimana caranya masyarakat disiplin tidak membuang sampah ke sungai, dan seterusnya.

Pengetahuan jenis ini lalu seperti memaksa kita untuk menerima bahwa berilmu itu sederhana saja urusannya yaitu menjelaskan (explaining) dunia, lebih khusus lagi menjelaskan cara beroperasinya. Itu saja. 

Terhadap ajakan untuk misalnya menggeser sedikit saja orientasi berilmu ini ke arah yang lain, pengetahuan ini akan mengeluarkan kata-kata, “ah itu berat”, atau “ah itu rumit”, “saya mau yang gampang-gampang saja”, “yang penting cepat lulus”, “yang penting dapat gelar”, atau “ilmu saya ini ilmu terapan”.

Dalam bentuk yang agak lebih pajang, celetukan-celetukan pendek itu senada dengan ungkapan salah satu penulis di media massa online populer, “rasanya naif kalau tujuan kuliah hanya soal membangun mindset, dan mencari ilmu” ("Lulusan UIN Skill-nya di Bawah Rata-rata, dan Inilah Penyebabnya")Kata-kata ini persis seperti yang diinginkan oleh pengetahuan mainstream itu untuk dinyatakan sekaligus menunjukkan kekuatan dominasinya.

Tapi bukan berarti maksud pengetahuan jenis yang ini tidak penting. Tentu saja kita harus berterima kasih atas kontribusinya bagi dunia ini. Persoalannya adalah ketika pengetahuan ini terus berusaha mengesankan kalau berpengetahuan itu caranya hanya itu saja. Yang lain boleh ada tapi cukup sebut “alternatif” saja.

Masalahnya lagi ternyata upaya ke arah sana dilakukan dengan sangat innocent, misalnya kalau anda mau menghasilkan ilmu caranya hanya dua saja, yaitu kualitatif atau kuantitatif. Berilmu itu urusannya hanya membuktikan saja (verfication). Sudah.

Dalam perkembangannya, pengetahuan ini juga menyediakan cara bagaimana sebuah pengetahuan itu harus ditulis dan dilaporkan. Di situ ada aturannya, ada templatenya, ada urutannya, ada sistematikanya. 

Awalnya hanya semacam panduan tapi lama-lama jadi standar penulisan ilmiah yang dibakukan. Efeknya, kalau kita menulis tidak dengan cara itu bisa dianggap tidak ilmiah, dan kalau menulis dengan cara lain dibilang “ah berat”.   

Kritik terhadap cara menulis ilmu yang demikian itu sebetulnya sudah ada sejak lama tapi entah kenapa tidak diberitahukan, apalagi dianjurkan, lebih-lebih lagi diajarkan dan dilatihkan. 

Di beberapa tempat malah sama sekali tidak diperbolehkan. Inilah sebab kenapa kita harus menulis dan berpengetahuan dengan cara lain. Salah satunya adalah menulis dengan cara reflexivisme.   

Seriestiga-10 yang akan diselenggarakan Sekolah Riset Satukata bulan April mendatang khusus didesain untuk mengenalkan cara tersebut. Di sini anda akan diajak untuk berani berbeda dari mainstream dalam berpengetahuan dan mencoba cara lain menuliskan hasilnya.

Cara ini telah dipakai oleh para peneliti dan ilmuan yang memiliki concern terhadap bagaimana dunia ini tercipta (constituting) bukan sekadar menjelaskan cara beroperasinya saja (explaining). Kalau cara mainstream membicarakan hal-hal di luar pengetahuan dalam rangka membangun dan mengembangkannya.

Reflexivisme mengajak untuk menjadikan pengetahuan itu sebagai titik mulai dalam berilmu pengetahuan, karena jangan-jangan masalahnya selama ini memang ada pada pengetahuan atau dalam praktik berpengetahuan itu sendiri.

Kelas ini sendiri dibagi dalam tiga rangkaian kelas. Sekuen yang pertama membahas bagaimana reflexivisme sebagai metodologi berilmu bekerja, apa saja asumsi-asumsi dasarnya dan bagaimana membedakannya dengan yang mainstream.

Sekuen yang kedua peserta diajak untuk menulis dengan cara reflexivisme yang pernah dilakukan oleh Michel Foucault. Cara menulis Ernesto Laclau akan menjadi latihan lain yang disajikan pada sekuen ketiga.

Terkait dengan apa saja yang secara spesifik dibahas sepanjang kelas, silahkan kulik tautan berikut ini: https://youtu.be/gWJR8OxCFek



0 Komentar