Kalau Pendidikan Membebaskan Kenapa Penuh Kekerasan? Little Aresha dan Kita Semua


 ilustration by canva

 sekolah riset satukata,-

Dr. Amin Tohari, M.A.

 

Baru-baru ini publik dikagetkan oleh daycare Little Aresha yang diduga melakukan kekerasan kepada para balita yang diasuhnya, dengan cara diikat kakinya dan baru dilepas kalau sudah mau dijemput pulang atau ke kamar mandi. Praktik ini terjadi selama bertahun-tahun sebelum akhirnya terungkap. Little Aresha hanya salah satunya, kejadian serupa juga pernah terjadi sebelumnya.

Peristiwa ini betul-betul mengaduk-aduk emosi publik. Cacian, makian dan sumpah serapah memenuhi lini masa media sosial. Masyarakat menuntut skandal itu diusut tuntas, pelakunya dihukum, dan daycarenya ditutup. Otoritas pemerintah kota Yogyakarta diminta segera melakukan sidak semua daycare yang ada di wilayahnya.

Sebelum ini terkuak, di NTT seorang siswa SD mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli sebuah pensil. Dan tidak lama berselang dari cerita Little Aresha, Kemenristekdikti berencana menutup program studi yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Meskipun untuk menenangkan kritik publik, Menristekdikti akhirnya memilih kata “mengembangkan” daripada “menutup”.

Tapi semua cerita itu seperti menarik kita untuk kembali melihat dan berdebat tentang orientasi pendidikan nasional kita, --harus sebegitu menghambakah pendidikan ini kepada dunia industri.

Ketiga cerita di atas hanyalah gejala dari realitas dunia pendidikan secara keseluruhan. Gejala-gejala ini seperti mendorong kita semua bertanya, kalau pendidikan itu membebaskan kenapa penuh kekerasan? Kekerasan bukan hanya apa yang terjadi dan dilakukan Little Aresha, tapi kasus siswa SD di NTT, penutupan prodi, dan entah apa lagi nanti, juga termasuk kekerasan yang terjadi pada salah satu pesantren di Pati, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita coba meminjam konseptualisasi kekerasan dari seorang Hannah Arendt. Dengan ini mungkin kita bisa terbantu memahami realitas dunia pendidikan Indonesia sejauh ini dan kita semacam bisa melihat kapan pendidikan itu membebaskan dan kapan ia menjadi instrumen kekerasan.

Hannah Arendt (1906-1975) adalah seorang penulis dan filsuf perempuan abad-20 asal Jerman. Ia dituduh mendukung kekerasan karena tulisan-tulisannya dan karena itu banyak yang menjauhinya. Padahal kalau kita pelajari tulisan-tulisannya, sesungguhnya concern utama Arendt adalah menjelaskan kenapa kekerasan terjadi dan bagaimana kita bisa terhindar darinya.

Dominasi konseptualisasi kekerasan yang sangat Johan Galtung sejauh ini telah membuat Arendt tidak mendapat perhatian yang semestinya karena salah mengira teorisasinya tentang kekerasan seolah-olah melihat kekerasan sebagai sesuatu yang biasa untuk dilakukan. Kalau tidak jeli memang akan ada kesan yang seperti itu. Dalam tulisan ini kita tidak perlu masuk terlalu jauh dalam polemik ini karena siapapun boleh tidak setuju dengan Arendt.

Kalau kita taruh kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan, Arendt kira-kira akan mengatakan jelas saja hal itu bisa terjadi dan akan terus terjadi karena selama ini sebetulnya pendidikan telah kehilangan orientasinya atau orientasinya sudah berubah arah ke orientasi yang justru menjadikan kekerasan sebagai hal biasa.

Tapi apa yang sebetulnya dimaksudkan Arendt dengan kekerasan (violence). Ia berbeda dengan Johan Galtung yang memberi pengertian kekerasan sebagai segala sesuatu yang menimbulkan kerusakan, Arendt melihatnya sebagai semua tindakan mengubah sesuatu dari bentuk sebelumnya ke sesuatu yang lain.

Ketika anda misalnya mengambil secarik kertas dan sebuah pensil lalu menggoreskan garis dan gambar pada kertas putih itu, bagi Arendt hal itu adalah kekerasan. Bagi Johan Galtung tidak. Membabat hutan untuk kelapa sawit, bagi Arendt itu kekerasan, bagi Galtung bukan. Memelihara ikan di aquarium, bagi Galtung, bukan kekerasan. Arendt mengatakannya kekerasan.

Perlakuan Little Aresha kepada anak didiknya, Galtung dan Arendt akan melihatnya sebagai kekerasan. Penutupan prodi tak sesuai industri, bagi Galtung bukan kekerasan. Bagi Arendt itu kekerasan. Termasuk lulus tepat waktu, harus inovatif, solutif, kreatif dan sebagainya. Semua itu terjadi karena memang pendidikan kita ini diarahkan untuk kekerasan. Bahkan pendidikan itu sendiri bagi Arendt juga adalah kekerasan karena ia dilakukan untuk membentuk manusia baru.

Entah kita sadari atau tidak, makin ke sini sebetulnya orientasi pendidikan kita diarahkan mencetak manusia yang mampu mengubah sesuatu, menciptakan sesuatu, melipatgandakan sesuatu, menghasilkan sesuatu dan seterusnya. Bukan hanya yang urusannya dengan sains dan teknologi, tapi yang sosial humaniora juga diperlakukan dengan cara yang sama. Periksa saja semua dokumen akreditasi kampus dan sekolah, hal itu akan dengan mudah diketahui.

Tapi kita harus hati-hati di sini, Arendt tidak sedang memasukkan kekerasan dalam kotak baik dan buruk seperti Johan Galtung. Ia bahkan mengatakan kekerasan adalah bagian dari cara hidup, way of survival, kalau tidak ada kekerasan kita tidak bisa hidup. Kita tidak bisa bertahan sebagai manusia. Untuk bisa makan saja kita butuh kekerasan,-- mengubah padi ke beras, lalu beras ke nasi, dari nasi ke bubur dan seterusnya. Itu saja sudah penuh kekerasan. Belum lagi menggoreng tempe, memanggang ikan, mambakar sate, dan seterusnya. Singkat kata hidup kita ini memang dipenuhi kekerasan.

Arendt jelas membuat kesal siapapun yang sudah kadung melihat kekerasan dengan caranya Galtung karena tidak lagi bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif. Lagi pula kalau hidup ini penuh kekerasan dan tanpanya kita tidak bisa hidup berarti tidak terlalu berguna membicarakannya. Betul sekali. Tapi jangan berhenti di sini karena bisa membuat kita seperti menghalalkan kekerasan.

Kenapa demikian karena dari penjelasannya soal kekerasan, ia seperti sedang mengindentikkannya dengan labor dan work. Sementara kita semua harus kerja. Tanpa kerja hidup ini bisa berhenti. Ini betul sekali. Tapi hidup yang penuh kekerasan ini bisa menghancurkan hidup itu sendiri. Bayangkan jika semua tindakan kerja untuk hidup dilakukan hanya untuk memenuhi kepuasan sendiri-sendiri dan tidak tahu untuk apa.

Arendt seperti menengarai bahwa kerja atau labor itu bisa mengarah pada instrumentalisasi kehidupan. Ini terjadi ketika semua ditujukan pada output, mengejar efisiensi setinggi-tingginya, dengan cara yang seefektif-efektifnya. Menjadi demikian karena kerja atau labor tersebut memang orientasinya mengendalikan (controlling). Ketika hal ini dilakukan secara banal, hidup seperti langsung berada di bawah tekanan (oppression).

Arendt sendiri menyadari bahwa tak bisa lagi dihindari kalau hidup ini memang keras. Agar supaya kekerasan ini tidak menghancurkan, kekerasan itu harus diarahkan ke sesuatu yang mendukung kehidupan. Dan sesuatu yang bisa menjalankan fungsi itu, menurut Arendt adalah power. Tapi yang dia maksud dengan power di sini bukan negara, pemerintah, atau hukum melainkan kemampuan bertindak bersama orang-orang untuk kepentingan semua.    

Nama lain dari tindakan bersama itu adalah public will atau kehendak umum (general will). Kehendak umum ini baru bisa diketahui kalau dibicarakan bersama karena ia hasil deliberasi dan bukan agregasi. Deliberasi terjadi kalau ada diskusi dan dialog kolektif yang berlangsung bersama dan di tengah orang-orang (people). Sementara agregasi menutupnya karena mengandalkan suara yang paling banyak atau paling lantang yang biasa dilakukan lewat survei persepsi publik. Deliberasi basisnya pemahaman bersama (understanding), sedangkan agregasi basisnya mengendalikan (controlling).

Kembali ke cerita di awal tulisan ini, kalau kita bertanya kenapa pendidikan yang harusnya membebaskan malah penuh kekerasan, sekarang kita bisa sedikit punya gambaran karena sepertinya arah pendidikan kita makin lama makin ke sisi yang controlling bukan yang understanding, pada violence bukan pada power, pada laboring bukan pada act in concert, pada agregasi bukan pada deliberasi, pada akumulasi kekayaan dan kemajuan bukan pada freedom dan justice.

 

Referensi

Arendt, H. (1951) The Origins of Totalitarianism. New York: Harcourt, Brace.

Arendt, H. (2018) The Human Condition. 2nd edn. Chicago: University of Chicago Press.

Arendt, H. (1970) On Violence. New York: Harcourt, Brace & World.

Galtung, J. (1969) ‘Violence, Peace, and Peace Research’, Journal of Peace Research, 6(3), pp. 167–191.

Galtung, J. (1990) ‘Cultural Violence’, Journal of Peace Research, 27(3), pp. 291–305.

Sekolah Riset Satukata. Catatan Kelas Master Class Kritik Kekuasaan & Pasca Kekuasaan: Pertemuan 3 Legitimasi Kekuasaan. Kelas daring, 16 Oktober 2025.

 

 


0 Komentar