Beberapa waktu yang lalu sejumlah acara
menonton film bareng dibubarkan. Bahkan tanpa dilandasi alasan jelas pejabat
rektor sebuah kampus melarang fillm berjudul Pesta Babi ditonton ramai-ramai. Di Ternate, yang membubarkan acara bukan lagi
polisi tapi TNI. Publik kita bertanya, ada apa?
Film Pesta Babi mengangkat realitas kehidupan sebagian orang Papua yang diceritakan dalam genre dokumenter. Sebagai sebuah karya intelektual film ini sangat layak mendapatkan apresiasi. Dan menonton bersama adalah bentuk apresiasi itu.
Film itu sendiri merekam bentuk-bentuk perjuangan orang Papua melawan proyek-proyek strategis nasional yang merugikan. Tak ada yang perlu ditakutkan karena jelas pembuat film sedang mengkonstruksi Papua sebagai korban.
Implikasinya memang mengatakan bahwa yang dilakukan
negara bukan pembangunan tapi perampasan. Jelas ini mengkhawatirkan bagi
siapapun yang berdiri di belakang ideologi pembangunan.
Bagi anda yang senang dengan bagaimana pendekatan ekonomi politik digunakan untuk membuat film, film tersebut adalah contoh yang bagus. Film itu sendiri dibuat dari riset dan setiap riset selalu mengoperasionalisasikan pendekatan yang spesifik.
Dan
setiap pendekatan selalu akan melihat satu hal dan mengabaikan hal lainnya. Tapi
ini baru bisa dimengerti kalau kita bergeser dari riset sebagai verifikasi ke
riset sebagai social construction of reality.
Jadi memang sebetulnya biasa saja. Maksudnya bukan persoalan Papua yang biasa saja. Realitas yang ditampilkan film tersebut sudah tentu sangat serius.
Yang mungkin berlebihan adalah soal larang-melarang itu. Tapi kalau kita perhatikan juga justru larang-melarang ini sebetulnya punya efek positif pada tingginya animo publik.
Setiap karya seperti butuh momen politik untuk mendapat simpati yang luas.
Pesta Babi, dengan baik, berhasil memanfaatkan momen ini. Alih-alih
melenyapkan, larang-melarang ini malah mempertegas terbentuknya realitas Pesta
Babi.
Kalau dari perspektif ini melihatnya, mungkin malah perlu berterimakasih kepada keompok yang melarang-larang itu karena justru dengan tindakannya popularitas Pesta Babi makin meroket. Kelihatannya mereka melarang tapi sebetulnya larangan itu malah berubah menjadi dukungan.
Dengan kata lain, mereka mendukung justru dengan cara melarang. Kita bisa lihat bagaimana tindakan membubarkan itu berubah jadi dukungan salah satunya dari memperhatikan bagaimana media massa mem-framing-nya.
Tempo.co misalnya menulis “Rektorat Unram Bubarkan Acara Nobar Film Pesta Babi”. Kompas.com menulis, “Baru Tayang 3 Menit, Nobar Film “Pesta Babi” di UIN Mataram Dibubarkan”.
Detik.com
menulis “Nobar “Pesta Babi” di Unram Dibubarkan, Wakil Rektor Minta Nonton
Sepak Bola”. Tribunews.com menulis, “Pembubaran Nobar Film Pesta Babi di
Ternate oleh TNI Bentuk Pembungkaman Kebebasan Berekspresi”.
Pada semua redaksi berita
tersebut, kita tidak satupun melihat ada kata otoritarianisme. Tapi semacam
bisa dirasakan, dan juga mungkin tidak disadari oleh penulis beritanya atau
bahkan medianya, sebetulnya melalui peredaksian tersebut, masing-masing sedang
mengonstruksi realitas otoritarianisme. Para pembaca sedang diajak untuk
melihat demokrasi dan kebebasan berekspresi berada dalam ancaman.
Dan, yang juga menarik, adalah realitas otoritarianisme itu coba dilekatkan pada subjek tertentu. Tempo, Tribun dan Detik menyebutkan subjeknya dengan jelas, sedangkan Kompas menyamarkannya. Strategi memunculkan atau menyamarkan subjek ini merupakan hal biasa dalam upaya menampilkan realitas.
Upaya menyembunyikan subjek biasanya
dalam rangka untuk menunjukkan realitas sealamiah mungkin, objektif dan netral.
Sementara yang menampilkan subjek berusaha mengatakan bahwa ada pihak yang
bertanggungjawab dalam realitas tersebut.
Dengan memperhatikan aspek ini juga bisa dilihat misalnya jarak kedekatan politik media dengan kekuasaan. Yang menyebutkan subjek bisa jadi memiliki jarak lebih jauh dari rezim kekuasaan. Teks berita yang ini seperti berusaha mengatakan bahwa rezim saat ini bertanggungjawab atas tindakan rerpesif tersebut.
Dan yang mengaburkannya
mungkin punya jarak lebih dekat dengan kekuasaan karena seolah mau mengatakan
kalau peristiwa pembubaran itu berdiri sendiri, tidak ada kaitannya dengan
rezim politik tertentu.
Setiap teks berita dan teks apa saja baru bisa dipahami kalau dia berada dalam tatanan diskursus tertentu. Ada banyak sekali tatanan diskursus di dunia ini dan kadang-kadang mereka bersilang sengkarut dalam sebuah teks dan berusaha sekuat mungkin mempengaruhi pemaham kita sebagai pembacanya.
Kalau kita perhatikan teks berita yang dirajut dari
fenomena nonton Pesta Babi tersebut, di dalamnya ada dua tatanan diskursus yang
berebut pengaruh, antara “diskursus demokrasi dan kebebasan berekspresi” dengan
“diskursus keamanan dan ketertiban”.
Pembubaran nobar Pesta Babi, sebagai sebuah teks, seperti berada dalam tarik menarik dua diskursus tersebut. Dua diskursus tersebut sudah ada dalam masyarakat dan teks berita itu semacam mengaktivasinya.
Pembaca yang sejak lama berada dalam pengaruh diskursus demokrasi dan kebebasan berekspresi akan langsung menempatkan fenomena pembubaran tersebut dalam tindakan represif yang mengancam demokrasi.
Sebaliknya yang kuat sekali
dipengaruhi diskursus keamanan dan ketertiban akan melihatnya sebagai keonaran
sosial yang harus didisiplinkan. Oleh karena itu, tindakan pembubaran, menurut
diskursus ini, sah sebagai cara mengembalikan atau menjaga tatanan sosial.
Ketika kita sudah bisa menemukan relasi kuasa dalam sebuah teks sederhana dan membongkar praktik diskursifnya, kita akan dengan mudah menemukan apa yang oleh Norman Fairclough maksudkan dengan praktik sosial (social practices).
Dari dua tatanan diskursif di
atas kita bisa melihat dua kekuatan politik yang saling berhadap-hadapan.
Masing-masing memiliki pandangan spesifik tentang dunia ini.
Kelompok demokratisasi membagi dunia ini dalam dua kategori saja yaitu dunia yang adil dan dunia yang timpang. Sedangkan kelompok keamanan memahami dunia ini antara dunia yang kacau-balau dengan dunia yang aman-damai.
Siapapun anda, apapun pekerjaan anda, di manapun anda berada, setinggi apapun pendidikan anda, kalau bagi anda dunia ini adalah soal beradab-tidak beradab, tertib dan tidak tertib, anda berada dalam kategori yang kedua.
Tapi sebaliknya kalau bagi anda dunia ini berisi golongan kuat dan
golongan lemah, elit dan massa, demokratis dan otoritarian, anda berada di
kelompok yang kedua.
Kalau kita kembali ke posisi politik media di atas, yang menyembunyikan subjek, mungkin tanpa disadarinya melihat dunia ini aman-damai, plural dan multikultural. Sedangkan yang menyebutkannya, juga tanpa sadar, melihat dunia ini dalam skema adil dan timpang.
Boleh tidak setuju tapi dalam kenyataanya, media seperti Tempo lebih suka
dengan investigasi mendalam membongkar skandal dan kasus-kasus korupsi.
Sebaliknya Kompas cenderung berusaha menampilkan dunia secara objektif dan
netral yang bahasanya diubah dengan kata “berimbang”.
Sampai di sini bukankah yang sedang kita lihat dari ribut-ribut pembubaran nobar Pesta Babi adalah apa yang pernah disebut Karl Marx dengan pertarungan kelas sosial (class struggle). Bukan hanya di Indonesia, tak peduli di negara manapun seseorang tinggal, dua kekuatan sosial ini pasti ada dan bertarung berebut pengaruh.
Tapi justru
karena pertarungan keduanya itulah dunia ini berkembang, kita sebagai manusia
semakin maju, dan dunia ini tidak stagnan. Upaya melenyapkan salah satu dari
dua kekuatan tersebut, dalam sejarah dunia, selalu berakhir dengan melapetaka
kemanusiaan yang tak terbayangkan pedihnya.
Semua cerita di atas adalah contoh sederhana penerapan model analisis diskursus kritis. Ada tiga level analisis yang harus dilakukan yaitu analisis teks, analisis praktik diskursif dan analisis praktik sosial.
Untuk bisa melakukan analisis yang lebih komprehensif
silahkan menelaah buku yang baru saja diterbitkan Sekolah Riset Satukata, berjudul
“Kata, Kita dan Kuasa: Metode Penelitian Diskursus Kritis Norman Fairclough”.
Buku setebal 180 halaman tersebut ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah. Terdiri dari sembilan bab, buku ini menyajikan cara yang gamblang dalam melakukan penelitian dengan pendekatan diskursus kritis.
Pendekatan yang lebih populer dengan sebutan CDA atau Critical
Discourse Analysis ini membantu kita membongkar realitas yang ditampilkan
oleh teks apa saja.
Mulai dari bagian 1 sampai dengan
bagian 7 kita dibawa untuk masuk ke dalam relung berpikir analisis diskursus
kritis. Diperkenalkan dengan konsep-konsep kunci dan aspek-aspek penting, serta
langkah-langkah analisisnya, disertai ilustrasi-ilustrasi kasus dari hal-hal
yang sering terjadi sehari-hari.
Referensi
“Baru Tayang 3 Menit, Nobar Film “Pesta
Babi” di UIN Mataram Dibubarkan”, dalam https://regional.kompas.com/read/2026/05/09/050900178/baru-tayang-3-menit-nobar-film-pesta-babi-di-uin-mataram-dibubarkan, diakses
pada Senin, 18 Mei 2026.
“Nobar “Pesta Babi” di
Unram Dibubarkan, Wakil Rektor Minta Nonton Sepak Bola”, dalam https://www.detik.com/bali/nusra/d-8479469/nobar-pesta-babi-di-unram-dibubarkan-wakil-rektor-minta-nonton-sepakbola?utm_source=chatgpt.com, diakses
pada Senin, 18 Mei 2026.
“Pembubaran Nobar Film Pesta Babi di
Ternate oleh TNI Bentuk Pembungkaman Kebebasan Berekspresi”, dalam https://www.tribunnews.com/nasional/7827915/pembubaran-nobar-film-pesta-babi-di-ternate-oleh-tni-bentuk-pembungkaman-kebebasan-berekspresi, diakses
pada Senin, 18 Mei 2026
“Rektorat Unram Bubarkan Acara
Nobar Film Pesta Babi”, dalam https://www.tempo.co/politik/rektorat-unram-bubarkan-acara-nobar-film-pesta-babi-2134406#google_vignette,
diakses pada Senin, 18 Mei 2026.
Laksono, D.D. and Dale, C.P.
(2026) Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita [Film]. WatchDoc,
Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace and LBH
Papua Merauke.
Norman Fairclough (1992) Discourse
and Social Change. Cambridge: Polity Press.
Sekolah Riset Satukata (2022) SERISPESIAL
Diskursus dan Perubahan Sosial, Pertemuan 4: Diskursus, Praktik Diskursif dan
Tatanan Diskursus.
Tohari, A. and Kusumawati, D.
(2026) Kata, Kita dan Kuasa: Metode Penelitian Diskursus Kritis Norman
Fairclough. Yogyakarta: Sekolah Riset Satukata.

0 Komentar