ilustration by canva
Dr. Amin Tohari, M.A.
Beberapa waktu yang lalu,
fenomena yang ramai diperbicangkan adalah pidato presiden prabowo di sidang
DPR. Dalam kesempatan tersebut ia menjelaskan makro ekonomi Indonesia, dan salah
satu soal rencana pemerintah mematok nilai tukar rupiah terhadap dollar (Rp. 16.800-Rp.
17.500). Ini karena beberapa hari sebelum pidato, kurs rupiah melemah sangat
signfikan (Rp. 17.746) melampui nilainya saat krisis moneter tahun 1998 (Rp. 16.650).
Meskipun ini adalah isu yang
penting terutama bagi para ekonom namun yang menarik perhatian publik lebih
banyak bukan isi pidatonya melainkan frekuensi pidatonya. Mungkin tidak salah
kalau dikatakan Prabowo adalah presiden yang paling gemar pidato. Laman saluran
berita BBC misalnya mencatat selama 16 bulan menjabat, Prabowo sudah berpidato
sebanyak 70 kali, sehingga kurang lebih dalam sebulan rata-rata 4 sampai 5 kali
ia bicara di podium.
Sudah tentu tidak pernah ada
standar yang mengatur berapa banyak seorang presiden berpidato dalam sebulan. Mau
tiap hari berpidato juga boleh. Poinnya bukan di situ. Apa yang menarik adalah hampir
pada setiap pidato yang disampaikannya selalu ada yang kontroversial. Mulai
dari misalnya, “orang desa tak pakai dollar”, “orang desa tak bermimpi kaya
raya, yang penting cukup makan”, “yang melihat Indonesia gelap, kabur saja ke
Yaman”, “para pengamat akan ditertibkan”, dan sebagainya.
Suka atau tidak suka di waktu-waktu
mendatang kita masih akan mendengar pernyataan-pernyataan kontroversialnya yang
entah apa lagi. Tapi kalau semua omongannya itu diperhatikan, mulai dari
demokrasi kita tidak efisien, ekonomi bocor, tanam lebih banyak sawit di Papua,
Makan Bergizi Gratis, Danantara, Koperasi Desa Merah Putih, kebijakan ekspor
satu pintu, swasembada pangan dan energi, dan masih banyak lagi, --kita seperti
sedang melihat orang bermimpi.
Sebagaimana mimpi, alurnya selalu
tidak jelas, berbelok ke berbagai arah, terputus-putus, dan berisi hal-hal yang
tak masuk di akal. Memang begitulah sebuah mimpi, kata Sigmund Freud. Saat
mimpi itu diceritakan dalam kondisi sadar, kita sendiri maupun orang yang
mendengarnya bisa tertawa, karena menganggapnya aneh atau lucu. Bagi kita yang
sadar, mimpi selalu bersifat kontrovesial. Namanya juga mimpi. Kata para orang tua,
mimpi adalah kembang tidur. Jadi, nggak usah terlalu diambil pusing. Tapi bagi
Freud tidak. Mimpi sebetulnya sedang memberi tahu kita sesuatu yang lebih
dalam.
Sampai di sini kita bisa mendapat
satu hal menarik. Bisa jadi, pidato dan pernyataan Prabowo, juga
menteri-menterinya, menjadi kontroversial karena kita membicarakannya dalam
kondisi orang yang sadar. Salah satu respon sadar terhadap pernyataan Prabowo
soal orang desa tak pakai dollar adalah dengan membeber data-data komoditas
yang ikut naik dan itu berdampak langsung ke orang desa, misalnya kedelai
sebagai bahan baku tempe. Harga pupuk juga ikut naik. Tentu saja respon seperti
ini seratus persen tidak salah. Cuma ini mirip seperti orang terjaga yang
sedang menceritakan mimpi konyol semalam yang sudah tentu menggelikan dan tak
masuk akal.
Kalau seperti itu, pertanyaannya adalah
apakah berarti kita ini dipimpin oleh presiden yang sedang tidak sadar? Mungkin
saja, tapi yang perlu dicatat, “tidak sadar” di sini maksudnya bukan pingsan
atau mabok, melainkan seperti yang dikatakan Sigmund Freud, bahwa kita ini
semua berpikir secara unconscious. Itu berarti kalau wilayah unconscious
ini kita ungkap, kita bisa memahami kenapa seseorang bicaranya berubah-ubah atau
kata-katanya meracau tidak jelas atau perilakunya kelihatan aneh.
Dalam tradisi psikoanalisis
Freudian, metode mengungkap alam bawa sadar itu ada dua. Yang pertama
dengan cara hipnotis dan yang kedua dengan asosiasi bebas (free association).
Pada mulanya Freud menggunakan hipnotis tapi kemudian tidak puas lalu ia
memilih free association. Kedua metode tersebut masih digunakan hingga
sekarang oleh psikologi klinis.
Dalam metode asosiasi bebas tersebut,
orang atau pasien diminta bercerita saja tentang apa yang dialaminya sebebas
mungkin. Mirip seperti mimpi, biasanya memang ceritanya berubah-ubah,
pindah-pindah, dan tidak runtut. Hal ini tidak masalah karena saat bercerita
itu ia sedang mengurai traumanya sendiri, ia sedang dealling with
sesuatu yang tak ingin ia bicarakan. Tindakan bicara itu sendiri merupakan releasing
trauma.
Dalam bukunya The
Interpretation of Dreams, Freud percaya bahwa mimpi adalah salah satu cara
dalam releasing trauma. Oleh karena trauma ini tidak bisa dibicarakan
pada saat terjaga, ia akan muncul dalam mimpi. Di sini Freud mendapat temuan
yang sangat penting dan menjadi dasar kenapa ia akhirnya menulis buku tafsir
mimpi itu. Temuan itu adalah, “oleh karena trauma selalu mencari cara untuk
keluar dan mimpi adalah salah satunya, berarti dengan menganalisis mimpi, akan
bisa diketahui apa trauma di baliknya.
Kita coba kembali ke pidato dan
pernyataan-pernyataan Prabowo. Kalau pernyataan Prabowo yang berubah-ubah itu
adalah mimpi, pertanyaannya adalah sebetulnya apa traumanya? Untuk menjawab ini
kita perlu tahu dulu trauma itu apa. Singkat cerita trauma adalah hasrat
keinginan (desire and demands) yang pemenuhannya terhambat dan karena
itu ia mengendap di alam bawa sadar. Baik mimpi, salah ngomong, atau gejala
histeria tertentu merupakan momen kembalinya sesuatu yang ditekan itu dalam
bentuk yang tidak destruktif.
Kalau setuju dengan ini, kita
bisa melihat kemudian, bahwa sebetulnya semua omongan Prabowo yang kelihatan
aneh itu menunjukkan sesuatu yang lama ditekan lalu muncul ke permukaan (the
return of the repressed). Secara cepat kita semacam bisa menangkap bahwa
yang menekannya selama ini sepertinya adalah apa saja yang hampir selalu
ditolaknya dalam pidato-pidatonya.
Untuk menyebut beberapa saja
misalnya, kita terlalu tergantung pada asing, politik kita terlalu
transaksional, desentralisasi yang kejauhan, kebebasan yang tak
terkendali, oligarki menguasai sumber daya, negara cuma jadi
fasilitator pasar, terlalu didikte omongan asing, terlalu banyak
impor, pemenuhan pangan dikuasai pasar, peran TNI terlalu
dibatasi, terlalu menuntut hak dari pada kewajiban, terlalu bebas bicara dan
berpendapat, terlalu banyak aturan dan rentang kendali lapisan birokrasi,---dan
masih banyak lagi.
Kalau kita perhatikan hal-hal
tersebut, ia sedang menolak semua yang selama sekitar lebih dari 25 tahun ini
dianggap sebagai kewajaran. Kita bisa tahu dari sini bahwa yang traumatik baginya
adalah Indonesia versi 1998. Ini karena Indonesia versi 1998 berjalan dengan
menekan hasrat keinginan Indonesia yang sebelumnya. Indonesia pasca 1998 adalah
Indonesia yang market driven development atau Indonesia yang market lead
capitalism, Indonesia yang dasar pengaturannya dilandaskan pada individual
right. Tapi kata-kata yang keluar dalam pidato-pidatonya adalah “didikte
oleh asing”, “tak ada negara yang peduli kita kalau sampai kita kelaparan”, dan
seterusnya.
Kita semua, ketika mendengar
pernyataan dalam pidato-pidato Prabowo, seperti orang yang melihat sesuatu aneh
muncul ke permukaan. Ini wajar karena memang ketika trauma itu menyeruak kita
tak sanggup menghadapinya. Respon ini juga sangat wajar karena dunia sadar kita
selama ini memang reformasi 1998. Ketika dunia reformasi 1998 ini digunakan
untuk membicarakan pidato-pidatonya, sudah tentu semua kelihatan aneh saja,
mirip seperti orang sadar menceritakan mimpi yang tak beraturan.
Lalu apa yang ditekan oleh
reformasi 1998? Ketika kita tahu apa yang selalu ditolak Prabowo dalam
pidato-pidatonya, akan menjadi mudah dan kelihatan makin terang saat semua
pernyataan-pernyataan yang bersilang sengkarut tak karuan itu kita masukkan
dalam kotak state monopoly capitalisme. Tampaknya inilah yang selama ini
ditekan oleh reformasi. Inilah versi Indonesia yang selama ini pemenuhannya
terhambat, sesuatu yang selama lebih dari 20 tahun selalu dihindari untuk
dibicarakan. Dan rasa-rasanya kita sedang dibawa menuju ke sana.
Kita mulai melihat di masa ini
negara diperkuat posisinya. Pembentukan Danantara, ekspor satu pintu, Kopdes
dan MBG yang dikelola secara terpusat dan sepenuhnya di bawah kendali negara.
Petinggi-petinggi angkatan bersenjata ditaruh pada posisi-posisi komisaris atau
dirut perusahaan negara. Upaya menyederhanakan sistem pemilu juga masih terus
diupayakan, dan sebagainya.
Bagi anda yang mencermati gagasan
Prabowonomic atau membaca buku Paradoks Indonesia dan Solusinya, tone
ke arah state manopoly capitalism ini terasa kuat. Orang kadang menamai
kecenderungan ini dengan sosialisme ekonomi, ada juga yang menyamakannya dengan
peran mantan komisi militer pusat China, Deng Xiao Ping dalam membangun
Tiongkok.
Gagasan ini tentu saja bagus
karena dia mendorong pada penguatan negara, lebih beorientasi ke dalam, dan
biasanya sangat suka dengan konsep-konsep swasembada atau ekonomi berdikari. Cuma
sialnya, mau market lead capitalism ataupun state monopoly
capitatalism, kok ya yang menang tetap kapitalisme. Kalau kapitalisme yang
menang, ceritanya akan tetap sama saja; ketimpangan di mana-mana, eksploitasi
di mana-mana, dan alam hancur juga di mana-mana.
Jadi, kalau ada pidato-pidato yang
entah apa lagi nanti, kita sekarang bisa melihat bahwa itu adalah upaya releasing
trauma untuk menyembuhkan diri. Semakin banyak berpidato semakin bisa berdamai
dengan sisi traumatiknya. Bagi kita yang mendengarnya cukup manggut-manggut
sambil nyuci piring, nyapu rumah, jemur cucian, dan kadang mematikan televisi.
Referensi
BBC News
Indonesia (2026) Menelisik
70 Pidato Presiden Prabowo: Klaim Keberhasilan MBG hingga 'Antek Asing'. YouTube. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=PQF-uy9Y0OE (Accessed: 25 May 2026).
Freud, S.
(1900) The Interpretation of Dreams. London: Hogarth Press.
Freud, S.
(1961) 'The ego and the Id', in Strachey, J. (ed. and trans.) The Standard Edition of The Complete
Psychological Works of Sigmund Freud. Vol. 19.
London: Hogarth Press, pp. 1–66.
Humas BRIN.
(2024) Mengenal Lebih Jauh Konsep
Ekonomi "Prabowonomic". Available
at: https://brin.go.id/ortkpekm/posts/kabar/mengenal-lebih-jauh-konsep-ekonomi-prabowonomic (Accessed: 20 May 2026).
Irfani, F.
(2025) Yang Terekam dalam 70 pidato
Presiden Prabowo: Dari Klaim Keberhasilan MBG Hingga Antek-Antek Asing. Available at: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn0exy2zyl7o (Accessed: 25 May 2026).
Sekolah
Riset Satukata (2021) Catatan
kelas Psikoanalisa Politik dan Demokrasi, 20 Agustus–27 September 2021. Unpublished class notes.
Subianto, P.
(2022) Paradoks Indonesia dan
solusinya. Cetakan ke-2. Jakarta: PT Media
Pandu Bangsa.

0 Komentar