Dr. Amin Tohari, M.A.
Seorang teman yang sudah lama
bekerja sebagai reviewer proposal penelitian, artikel jurnal dan hasil
riset pernah menceritakan pengalamannya. Ia bekerja sudah lebih dari lima tahun.
Salah satu yang menarik dari ceritanya adalah, ia mengatakan, ada banyak sekali
penelitian tapi kenapa hasilnya kurang lebih sama saja.
Yang agak lebih mengherankan
baginya adalah penelitian kita kok rasa-rasanya itu-itu saja. Bukan
hanya pada hasilnya tapi juga metodenya. Menurut ceritanya, hal ini tidak hanya
berlaku bagi akademisi di kampus saja. Mereka yang berbasis NGO juga memiliki
kecenderungan yang kurang lebih sama.
Bedanya adalah, sebagian besar
yang berlatar belakang kampus, risetnya cenderung mengusulkan problem
solving. Sedangkan yang dari kalangan NGO melihat persoalan lebih sistemik.
Yang kedua mengkritik yang pertama terlalu teknis. Sehingga kehilangan konteks struktural.
Sementara yang pertama mengkritik yang kedua terlalu mengawang-awang. Sehingga
sulit diaplikasikan.
Sudah tentu apa yang dilihat dan
dialami oleh teman itu tidak dilihat oleh orang lain. Meskipun mungkin punya pekerjaan
sama. Kita juga bisa tidak setuju dengan apa yang dikatakannya. Cuma mungkin ia
sedang bicara bukan pada level inovasi teknis melainkan di level paradigma
metodologis.
Kalau diformulasikan ulang,
kira-kira apa yang hendak dikatakan adalah, kenapa dunia penelitian dan cara
bagaimana kita menghasilkan pengetahuan hanya bersumber dari salah satu varian
metodologi saja. Dan seolah ada kecenderungan bahwa varian metodologi lain dianggap
rumit, tidak empirik dan tidak solutif.
Kita bisa bicarakan lebih panjang
soal varian metodologi itu di lain waktu. Tapi entah kebetulan atau tidak, tak berselang
lama dari cerita itu, sebuah skandal internasional terungkap. Sekelompok
periset asal Indonesia diduga mempresentasikan riset palsu berbasis AI
(Kecerdasan Buatan) di forum internasional bergengsi, International
Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Copenhagen,
Denmark. Pada tahun 2017, juga pernah terjadi skandal serupa sebetulnya. Saat
itu seorang berkewarganegaraan Indonesia mengaku merancang wahana peluncur
satelit untuk Kementerian Pertahanan Belanda dan mengerjakan proyek strategis
Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Ia kemudian mengakui bahwa apa yang dikatakannya
itu bohong.
Sudah tentu ada banyak pandangan
tentang bagaimana skandal di Copenhagen itu bisa muncul. Dalam sebuah
wawancara, salah seorang profesor, menanggapi hal itu. Menurutnya, itu terjadi
karena anak sekarang haus pencitraan sehingga mengabaikan integritas dan
kejujuran intelektual. Pandangan ini betul cuma tidak lengkap. Karena tidak
menyebut bahwa citra yang dikejar anak sekarang untuk selalu tampil di dunia
internasional adalah citra yang dengan kuat dibentuk oleh dunia kampus kita
yang memang silau dengan kemajuan, modernitas dan kecanggihan barat. Bukankah
lulusan dalam negeri selalu ditempatkan sebagai the second choice saja
karena ukuran tertinggi prestasi adalah international exposure.
Yang lain melihat ke soal
ketidaktelitian panitia konferensi dalam menyaring peserta. Bagi peneliti yang
bersangkutan, panitia konferensi Copenhagen terlalu lugu sehingga mudah
dikelabui. Kalau saja tidak ada peneliti yang juga dari Indonesia, yang tahu trick
dan tips yang terlatih dari ilmu serba prosedur, mungkin skandal itu
tidak pernah terkuak. Cara-cara yang digunakan menjadi semakin rapi dengan
bantun AI yang sangat canggih dalam mengaburkan batas antara yang palsu dan
yang bukan.
Namun tidak ada yang mencoba
melihat masalah keterkungkungan tradisi riset dalam metode dan prosedur bukan
pada posisi-posisi metodologis. Sehingga kalau semua prosedur terpenuhi, bisa
lolos dengan mudah. Kalau dari sudut ini kita melihat skandal tersebut, sepertinya
tidak terlalu salah kalau dikatakan, mesikipun tidak semuanya begitu, peneliti Indonesia itu memang sudah sangat piawai
berprosedur, dan keberhasilannya mengecoh panitia konferensi adalah hasil bagus
dari pendidikan penelitian yang selama ini memang menekankan metode bukan
metodologi. Mungkin seharusnya kita bangga. Rasanya memang agak aneh, tapi
bukankah itu yang terjadi sebetulnya.
Para peserta di sebuah kelas
metodologi bercerita tentang betapa dalam dunia penelitian yang dilakukannya,
ketika misalnya menyebut soal metode, yang dimaksud memang cara bagaimana data
dikumpulkan. Dan ketika ditanya lebih jauh lagi, para mahasiswa dan peneliti, tidak
memperlihatkan secara jelas rujukannya pada posisi metodologi tertentu.
Sebagian besar memaksudkan metode sebagai desain riset atau lebih spesifik lagi
soal strategi riset. Bukan orientasi keilmuan atau apalagi urusan yang hubungannya
dengan posisi peneliti terhadap objek yang ditelitinya.
Dalam pembicaraan mengenai desain
riset, setidaknya ada empat pertanyaan penting. Respon terhadap pertanyaan ini
memperlihatkan pada sudut mana seorang peneliti berdiri. Keempat pertanyaan itu
adalah apakah riset yang kita lakukan maunya hanya menjelaskan fenomena, atau
memahami makna, atau membela kelompok tertindas, atau mencari solusi saja.
Keempat pertanyaan ini akan
langsung juga menempatkannya pada posisi orientasi pengetahuan. Kalau posisi
pertanyaannya pada yang pertama dan keempat, sebagian besar arah penelitiannya
akan ke sesuatu yang sifatnya cenderung mengontrol atau merekayasa (controlling).
Tapi kalau posisinya di yang kedua, cenderung berusaha menempatkan penelitian
sebagai cara membangun saling pemahaman (understanding). Sementara
posisi pertanyaan ketiga, membawa pada misi transformasi dari ilmu itu sendiri
(critic).
Ada yang menarik ketika dalam
sebuah wawancara seorang profesor yang menjabat kepala badan penelitian
pemerintah menyampaikan bahwa penelitian yang berkualitas itu kalau berdampak.
Sampai sini masih oke. Namun ternyata yang dimaksudkannya “berdampak” adalah
kalau riset itu memecahkan masalah pembangunan dan memberikan solusi aplikatif.
Kita bisa tahu dari sini betapa yang dianggap riset berkualitas itu kalau
berada di desain riset yang pertama.
Pernyataan itu sendiri tidak
salah karena memang berangkat dari posisi varian metodologi yang paling mainstream,
positivisme. Sayangnya memang, karena sudah menjadi banal, orang tak sadar
kalau sedang mengoperasikan desain riset yang orientasinya merekayasa (controlling).
Akan jadi problem ketika standar itu dianggap universal sehingga harus diikuti
semua varian metodologi lainnya. Sebab riset yang orientasinya kritik misalnya,
memang tidak menghasilkan solusi dalam pengertian inovasi teknis pemecahan
masalah, tapi semacam menguak lapisan-lapisan realitas di balik fenomena.
Kalau yang dipakai mengukur
berkualitas tidaknya sebuah penelitian adalah varian metodologi riset mainstream,
jelas riset-riset kritis akan dianggap tidak berguna, tidak berdampak, dan tidak
aplikatif. Akibatnya, tidak dianggap penting, dan tidak akan didanai. Dari sini
kita jadi paham kenapa sekarang kebijakan penyaluran dana beasiswa LPDP akan 80
persen diarahan untuk jurusan-jurusan STEAM.
Kembali ke cerita skandal pemalsuan
di konferensi Copenhagen tersebut, kalau kita gunakan cerita ini untuk
menjelaskannya, kira-kira akan muncul beberapa hal menarik. Pertama, kita
di Indonesia ini memang belajar riset namun soal terkait metodologi tidak
mendapatkan tempat eksplorasi yang semestinya. Kedua, menjadi kian
terkuak jelas betapa selama ini, riset, dalam keseluruhan sistem pendidikan
perguruan tinggi, hanya mempelajari urusan metode. Bahkan dipersempit lagi
menjadi tiga pilihan saja, kuantitatif, kualitatif atau mixed method.
Ketiga, riset tidak
ditempatkan sebagai proses belajar yang menyeluruh tetapi ditaruh sebagai
persyaratan kelulusan yang diurus sambil mengerjakan hal-hal lain yang dianggap
lebih penting. Keempat, sudah sebelumnya tidak pernah diletakkan sebagai
urusan knowledge production, sekarang dihantam berbagai macam alat bantu
berpikir, yang makin menumpulkan tradisi riset karena dipermudah oleh alat-alat
tersebut. Skandal Copenhagen hanya satu yang diketahui, ada banyak lainnya yang
tidak kelihatan kalau dibantu oleh AI.
Di akhir tulisan ini, media
sosial sedang ramai perbincangan soal gaji dosen yang secuil upil. Kok
jauh-jauh ngomong soal kualitas riset, mau makan aja masih susah. Sudah pasti
perjuangan kesejahteraan ini harus didukung sebagai bagian dari upaya memperbaiki
dunia perguruan tinggi kita secara keseluruhan.
Referensi
Alasuutari,
P., Bickman, L. and Brannen, J. (eds.) (2008) The SAGE handbook of social research methods. London: SAGE Publications.
BBC News
Indonesia (2017) ‘Dwi Hartanto dan kebohongan menembus verifikasi media’.
Available at: https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41562851 (Accessed: 12 July 2026).
Denzin, N.K.
and Lincoln, Y.S. (eds.) (2017) The SAGE
handbook of qualitative research. 5th edn.
Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
detikEdu
(2025) ‘Dugaan riset palsu dari Indonesia terungkap di konferensi ilmiah
internasional’. Available at: https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8507525/dugaan-riset-palsu-dari-indonesia-terungkap-di-konferensi-ilmiah-internasional?page=2 (Accessed: 12 July 2026).
Jackson, P.T. (2011) The conduct of inquiry in international
relations: Philosophy of science and its implications for the study of world
politics. Abingdon: Routledge.
Seale, C.
(ed.) (2004) Social research methods: A
reader. London: Routledge.
0 Komentar