Menginterogasi Agama: Spiritualitas Tubuh, Kekuasaan dan Krisis Eksistensial

 

 sekolah riset satukata,-

Apa yang memanggil kita untuk membicarakan lagi agama di era ini mungkin adalah pertanyaan yang lamat-lamat muncul dalam kesadaran kolektif, ketika menyaksikan banyak sekali fenomena yang memperlihatkan bagaimana agama tampil dalam wajah yang tak dapat lagi dikenali dengan kacamata lama, sehingga kalau tidak melakukan penyegaran kembali dalam cara melihat agama akan mudah jatuh pada kesimpulan yang mengatakan bahwa agama tak lagi relevan memandu arah perjalanan manusia.

Sebagai sebuah kekuatan perubahan sejarah yang penting, membicarakan agama di tengah upaya global memojokkannya, adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Agama diperlakukan seperti orang tua yang dipaksa merespon dengan akomodatif semua perilaku baru anak-anaknya agar tampak relevan, tidak ketinggalan zaman, dan masih berguna. 

Dalam merespon itu, mungkin sekitar tiga dekade terakhir di Indonesia, kita menyaksikan agama seperti dipaksa untuk juga harus bicara misalnya soal demokrasi, kesetaraan gender, perubahan iklim, hak asasi manusia, pluralisme, multikulturalisme dan sebagainya.

Kalau bukan malah sebentuk kelakuan, yang tak disadari justru dilakukan, untuk memaksa agama menyediakan perangkat legitimasi, terhadap bentuk-bentuk baru sekularisasi, yang berganti baju dan muncul dalam, meminjam istilah Zizek, master signifier-master signifier baru, misalnya agama harus diintegrasikan dengan sains, dengan modernitas, dengan negara bangsa, dengan civil society dan sebagainya. 

Lalu kita semacam menyaksikan banyak sekali perayaan yang diselenggarakan untuk mengatakan bahwa agama adalah sains itu sendiri, demokrasi itu sendiri, agama juga adalah gender itu sendiri, HAM itu sendiri, pluralisme itu sendiri. 

Hingga hampir tak ada yang tersisa bahkan mungkin juga agama itu sendiri. Situasi inilah yang kemudian perlahan-perlahan mengakibatkan munculnya apa yang disebut dengan kekosongan dalam medan ontologi.  

Misalnya, terutama semenjak 911, agama seperti harus tampil dalam cara yang ditentukan. Dan sejak saat itu kita semua seolah dipaksa mengevaluasi, sampai ke level paling pribadi, cara menempatkan agama dalam tubuh kita, yang sebagian besar diarahkan pada bagaimana agar tidak menampilkan versi tubuh agama yang meneror. Lalu kita melihat ada banyak sekali upaya pelatihan untuk membentuk tubuh agama tertentu yang comply dengannya.  

Tanpa sadar proyek ini seperti membangkitkan kembali perdebatan lama tentang sekularisasi yang pernah sangat keras mewarnai perbincangan para intelektual dunia. Jejak-jejak perdebatannya masih bisa kita rasakan hingga saat ini misalnya sampai ke soal pluralisme, moderasi beragama, integrasi sains dan agama, dekolonisasi dan seterusnya.  

Tapi bersamaan dengan upaya global menekan sedalam mungkin kekuatan agama itu, kita menyaksikan banyak ekspresi agama yang menjadi jauh semakin keras dan terang-terangan. Agama kemudian semakin tampil dalam bentuk-bentuk yang sangat material dan menegaskan simbol-simbol formal. Berada di dalam gelombang pangaruhnya, kita semua seperti berada di dalam tarik-menarik yang permanen antara menerima agama sebagai sistem nilai atau menampilkannya sebagai fakta sosial.

Untuk yang menempatkannya sebagai sistem nilai, agama, terutama dalam tradisi Abrahamik, selalu dikaitkan dengan revelation atau “wahyu”. Agama ditampilkan sebagai manifestasi kepercayaan terhadap Sang Pencipta dan implikasinya pada level ritual dan praktikal. Bersamaan dengan itu, agama, menekankan pengakuan tentang limitasi manusia dan ketertundukan pada keberadaan dunia tertentu yang tidak bisa dijangkau manusia.

Tapi modernisasi yang datang kemudian melihatnya sebagai kemunduran sejarah. Modernisasi, didukung positivisme ilmu, menyerang hampir telak fondasi-fondasi dasar kepercayaan agama, tak mengherankan bila kemudian cenderung diterima sebagai proses yang menyingkirkan agama melalui sekularisasi. 

Modernisasi bisa jadi memang tak menghilangkan agama, tapi mengubahnya dari sistem nilai menjadi fakta sosial. Terhadap serangan ini, agama meresponnya dengan mengevaluasi diri pada cara melihat kembali wilayah sakral dan profan dalam dirinya.

Di sisi yang lain, kekhawatiran akan lenyapnya agama sebagai sistem nilai bukan melemah tapi makin menguat. Upaya ini bisa kita lihat muncul pada kembalinya agama dalam bentuk aksi kekerasan, rasisme skala dewa, politik identitas, maraknya acara pengajian, penegasan simbol-simbol agama dan ramainya diskusi tentang ketuhanan. Kalau diperhatikan semua itu menyerupai backlash, semacam agama yang lama terpojok sedang melakukan serangan balik.

Tapi dalam pergumulan sejarah itu, apa yang kita jelas saksikan adalah, pertama, agama tidak pernah tersingkir sebagai fakta sosial dan historis dan juga sistem budaya. Ia terus hidup dan dihidupi sebagai bagian integral dari praktik kolektif yang membentuk dan membentuk ulang masyarakat dan peradaban.

Yang kedua, agama selalu terkait langsung dengan proses formasi subjek dan pertumbuhan kesadaran, dan kebutuhan eksistenisal manusia. Ini merupakan aspek penting dari agama dan ritualnya di mana melaluinya siapapun dapat memiliki referensi untuk menjadi seseorang (identity).

Ketiga, spiritualitas dan gagasan tentang ketuhanan menampilkan dengan baik relasi kuasa di pusat pembentukan masyarakat maupun produksi dan reproduksi subjektivitas. 

Kalau dibaca lebih dalam gagasan ketuhanan merupakan pusat dari seluruh penjelasan yang dibutuhkan oleh siapapun sehingga sebetulnya sulit membayangkan aktivitas berpikir dan menjelaskan tanpa menghadirkan ketuhanan di dalamnya, bahkan kalaupun itu dilakukan oleh yang tak meyakininya.

Agama karenanya bukan saja bersifat sosial dan historis, tapi juga, yang terpenting, selalu mengandung dimensi perpolitikan. Sayangnya dalam banyak sekali penjelasan tentang agama, dimensi perpolitikan ini entah kenapa seperti selalu coba diabaikan dan disingkirkan. 

Padahal hanya melalui hal ini agama dapat mempertahankan agar pusat-pusat fondasi sosial tidak mengalami kekosongan karena jika ini terjadi akibatnya bisa sangat membahayakan. Yang disebut perpolitikan di sini bukan merujuk pada perebutan jabatan di wilayah negara atau organisasi melainkan sesuatu yang lebih luas dari itu.

Backlash yang disinggung di atas dalam hal ini menyerupai “deideologisasi” agama, yakni situasi ketika dimensi-dimensi sosial, historis dan politis keberagamaan dan ketuhanan hadir lebih nyata dan menegaskan “kekosongan” di pusat ontologi sebagai fondasi sosial. 

Karena itu penting untuk tetap membicarakan bagaimana upaya politik mengendarai keterbelahan yang selalu akan muncul dalam “the social” agar agama tidak tertinggal di pojok sejarah dan peradaban.

Untuk itu, ada dua agenda penting yang kita akan bicarakan di kelas ini. Yang pertama adalah bagaimana menempatkan agama dalam konteks formasi sosial dengan meminjam pandangan beberapa ilmuwan sosial dan filosof tentang agama. 

Bagian ini akan mengurai hubungan-hubungan rumit misalnya antara agama dan ideologi, dengan etika dan estetika, posisi filsafat, dan tentu saja membaca realitas tentang kembalinya agama.

Yang kedua, melihat bagaimana agama beroperasi pada proses yang melekat dalam formasi subjek, pertumbuhan kesadaran dan krisis eksistensialis. Tema-tema yang dibahas pada bagian ini mengurai kembali jargon-jargon kontroversial tentang agama yang selama ini dianggap seperti ajakan untuk meninggalkannya.

Kedua agenda pembahasan tersebut tidak bersifat ketat tapi hanya merupakan cara untuk memudahkan pembahasan. Namun yang pasti semua pembahasan merupakan upaya dalam menginterogasi agama.

Sebagai catatan penting, jangan dulu salah mengira dengan istilah “menginterogasi” yang digunakan. Istilah itu tidak saja ditaruh dalam kerangka kritik, tapi yang juga penting adalah bagaimana menonjolkan isu-isu ketidakadilan, opresi dan peminggiran. 

Untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang materi kelas ini bisa mengunjungi link berikut ini: https://youtu.be/jFfstNfhuTo [ATI]

 

Referensi

Carrette, J.R. (2000) Foucault and religion: spiritual corporality and political spirituality. New York: Routledge.

Durkheim, E. (2008) The elementary forms of religious life. Translated by C. Cosman. Oxford: Oxford University Press. (Original work published 1912).

Eliade, M. (1957) The sacred and the profane: the nature of religion. Translated by W.R. Trask. New York: Harcourt, Brace & World.

Geertz, C. (1960) The religion of Java. New York: Free Press.

Weber, M. (2009) The Protestant ethic and the spirit of capitalism with other writings. Translated by S. Kalberg. Oxford: Oxford University Press.

 


0 Komentar