Etika dalam Disrupsi
Kelas Seri Judith
Butler baru dimulai malam ini, 2 Mei 2024, tepat pada hari Pendidikan Nasional. Peserta sudah sangat antusias untuk berdiskusi. Misalnya, seorang
peserta mengajukan pertanyaan menarik, “bagaimana kita memahami
Judith Butler ini, sepertinya dia sedang membela identitasnya sendiri?”
Kenapa pertanyaan itu menarik? Pertanyaan itu bisa dibilang berangkat dari asumsi umum yang selama ini berkembang tentang Judith Butler, sehingga dari semua pemikiran yang dikembangkannya, yang menjadi fokus banyak orang justru pada soal tersebut.
Tapi apa pertanyaan
itu salah dan melihat dengan cara itu juga salah? Tentu tidak. Butler sendiri
mengakui dia berbeda. Cuma dari posisi itu dia bisa melihat bagaimana rasanya
disingkirkan berkali-kali. Dari posisi itu juga ia seperti sedang mengajukan
pertanyaan, penyingkiran itu terjadi karena dia yang berbeda atau karena begitu
kuatnya heteroseksual yang sudah menjadi norma?
Butler sendiri tidak sedang menolak heteroseksual. Sebetulnya yang sedang ia challenge adalah apa saja ketika sudah menjadi norma dan tidak ada upaya mendisrupsinya, ia akan menjadi alat penyingkiran terhadap apa saja yang berbeda dengannya.
Itu juga berarti soalnya bukan heteroseksual atau non-heteroseksual tetapi apapun ketika sudah menjadi norma maka pasti ada penyingkiran terhadap yang berbeda darinya. Dalam pengertian itu Butler sendiri juga tidak setuju dengan homoseksual ketika ia menjadi norma. Lalu apa implikasinya? Implikasinya adalah ia juga tidak setuju pada upaya untuk mendorong homoseksual menjadi norma.
Di kalangan
penstudi gender dan feminisme, Butler juga banyak mendapat serangan tapi juga
sanjungan. Bukan hanya heteroseksual atau lainnya, gender juga bahkan ketika ia
menjadi norma bisa berbahaya. Itulah kenapa ia menulis buku yang sangat penting
judulnya Gender Trouble. Sejak
dipublikasikan pertama kali tahun 1990, buku ini telah menjadi salah satu
rujukan penting bagi kajian teori feminis kontemporer, juga merupakan referensi
utama bagi yang tertarik dengan studi gender, queer theory, dan politik seksualitas.
Kalau begitu apakah tidak boleh ada norma? Ini juga pertanyaan yang menarik. Tapi mungkin soalnya bukan terletak pada boleh dan tidak boleh ada norma, tetapi apa yang harus dilakukan agar norma itu tidak membahayakan.
Pertanyaan ini kemudian membawanya pada melihat disrupsi sebagai metode mencegah norma yang bisa berubah menjadi alat sensor dan penyingkiran. Kita jadi tahu sekarang proyek besar yang dilakukannya adalah mendorong disrupsi karena di dalam disrupsi itu ada etika.
Tapi memang menjadi disruptif tidak mudah. Resikonya akan disingkirkan, tidak direkognisi sistem, dianggap aneh, bahkan bisa “dimatikan”. Persis inilah yang dilakukan Butler di sepanjang karir intelektualnya. Ia terus menganggu, menjadi aneh dan terus berada dalam etika disrupsi.
Seperti seorang
anak kecil yang terus-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh,
mencorat-coret dinding, menumpahkan makanan, menghambur-hamburkan mainan, yang
semua itu bisa menjengkelkan orang tua. Orang tua bisa jadi sangat geram dengan
ulahnya itu, tapi kalau salah respon ia bisa berhenti jadi orang tua.
Butler mungkin membayangkan etika disruspi itu seperti bermain, tapi bukan sekadar bermain. Ia sedang bermain,- mainin kekuasaan. (AT)
Komentar
Posting Komentar